Manajemen Diklat Rs, Manajemen Diklat Rumah Sakit, Pelaihan Manajemen Diklat Rumah Sakit, Pelatihan Manajemen Diklat Rs, Pelatihan Manajemen Diklat Rs 2024

Manajemen Diklat Pada Rumah Sakit

Manajemen Diklat

 

 

Program Manajemen Diklat Rumah Sakit merupakan suatu upaya strategis manajemen yang bertujuan untuk mengembangkan SDM dalam rangka meningkatkan kinerja suatu organisasi. Hampir setiap organisasi yang besar memilikinya, namun tidak semua dapat menyelenggarakan diklat secara baik. Suatu upaya strategis manajemen yang bertujuan untuk mengembangkan SDM dalam rangka meningkatkan kinerja suatu organisasi. Akan pentingnya pelatihan dan juga pengembangan tenaga rumah sakit sudah menjadi isu global dan juga banyak di sebar dalam berbagai bentuk publikasi, pelatihan dan juga pengembangan di rumah sakit seringkali tidak di jadikan prioritas. Salah satu alasannya adalah karena terbentur dengan alokasi pendanaan yang cukup besar dan juga merasa tidak menghasilkan apa-apa secara signifikan. Padahal program pelatihan dan juga pengembangan merupakan hal yang perlu di lakukan secara berkala dan juga kontinyu. Pengembangan dan pelatihan tenaga di rumah sakit dapat menjadi suatu langkah strategis manajemen rumah sakit dalam menyediakan pelayanan kesehatan dengan optimal.

Rumah Sakit dalam memberikan pelayanannya tentunya staff rumah sakit secara berkala memperoleh pelatihan dari bagian rumah sakit. Adapun tugas dan fungsi bagian rumah sakit selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia rumah sakit juga mampu menjalin kerjasama dalam penyelenggaraan pendidikan dan juga pelatihan. Dalam penyelenggaraan tentunya di sesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan di lapangan. Oleh karena itu di perlukan pengetahuan dan juga keterampilan dalam merencanakan sampai dengan evaluasi program pendidikan dan juga latihan bagi SDM di rumah sakit agar mampu memberikan pelayanan yang prima kepada pasien dan juga keluarga.

MATERI

  1. Filosofi pelatihan
  2. Siklus diklat
  3. Pengkajian kebutuhan pelatihan (TNA)
  4. Perumusan Tujuan pelatihan
  5. Rancangan Diklat
  6. Penyusunan Kurikulum dan GBPP
  7. Penyelenggaraan Pelatihan (Training Delivery)
  8. Master of Training
  9. Metode Pembelajaran
  10. Akreditasi Pelatihan
  11. Evaluasi Pelatihan
  12. Pengendalian Mutu Pelatihan

BIAYA & FASILITAS

Paket A Rp 5.500.000,- /peserta
Menginap di Grage Bussines Hotel MalioboroYogyakarta
(1 kamar/peserta) selama 3 hari 2 malam, konsumsi (makan pagi, makan siang, makan malam), Coffee break 2 kali sehari, sertifikat, Training kit, foto bersama dan sebuah tas eksklusif.

Paket B Rp 4.500.000,-/peserta
Tanpa Menginap di Hotel, Coffee break 2 kali sehari dengan makan siang di hotel selama 2 hari. Training kit, sertifikat, foto bersama dan sebuah tas eksklusif.

Untuk Info Pelatihan Lebih Lanjut KLIK DI SINI

 

manajemen laundry rumah sakit, manajemen linen rumah sakit, Pelatihan Linen & Laundry, pelatihan manajemen linen dan laundry rumah sakit

Pengelolaan Manajemen Linen & Laundry Rumah Sakit

Manajemen Linen

 

Manajemen Linen dan Laundry adalah upaya pengelolaan dan pengawasan terhadap tahapan-tahapan pencucian linen di rumah sakit untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan dan juga lingkungan hidup yang di timbulkan. Maksud dari “Linen” adalah bahan atau kain yang di gunakan di rumah sakit untuk kebutuhan sprei, bantal, guling, selimut, baju petugas, baju pasien dan juga alat instrument steril lainnya.

Linen yang akan di gunakan harus dalam kondisi bersih dan bebas dari kuman penyakit; maka di lakukan pencucian atau di sebut juga Laundry Rumah Sakit yang di dalamnya termasuknya juag proses Sterilisasi. Linen juga harus nyaman di gunakan oleh pasien; maka di lakukan pemeliharaan, perbaiakan atau penggantian.

Aktifitas Manajemen Linen dan Laundry antara lain :

  •  Perencenaan kebutuhan linen dan bahan pencuciannya untuk pelayanan pasien dan pencuciannya untuk pelayanan pasien dan keperluan pakkeperluan pakaaian petugas sesuai dengan tugas ian petugas sesuai dengan tugas dan fungsinyadan fungsinya
  • Perbaikan bahan linen yang rusak
  • Pengaturan distribusi linen dan pekerjaan laundry
  • Pemeliharaan peralatan laundry
  • Pengendalian penggunaan bahan linen.
  • Pengawasan kegiatan di unit linen dan laundry.

Manajemen Linen dan Laundry adalah upaya pengelolaan dan pengawasan terhadap tahapan-tahapan pencucian linen di rumah sakit untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan dan lingkungan hidup yang di timbulkan. Linen merupakan salah satu kebutuhan pasien di rumah sakit yang dapat memberikan dampak kenyamanan dan jaminan kesehatan. Pengelolaan linen yang buruk akan menyebabkan potensi penularan penyakit bagi pasien, staf dan pengguna linen lainnya.

Perlakuan terhadap Liinen di Rumah Sakit :

A. Pengumpulan

  1. Pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius di mulai dari sumber dan memasukkan linen kedalam kantong plastik sesuai jenisnya serta di beri label.
  2. Menghitung dan mencatat linen diruangan.
  3. Di larang melakukan perendaman linen kotor di ruangan sumber.

B. Penerimaan

  1. Mencatat linen yang di terima dan telah di pilah antara infeksius dan non infeksius.
  2. Linen di pilah berdasarkan tingkat kekotorannya.

C. Pencucian

  1. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mensin cuci dan kebutuhan deterjen dan disinfektan.
  2. Membersihkan linen kotor dari tinja, urin, darah dan muntahan dengan menggunakan mesin cuci infeksius.
  3. Mencuci dikelompokan berdasarkan tingkat kekotorannya.
  4. Pengeringan linen dengan mesin pengering (dryer) sehingga didapat hasil pengeringan yang baik.
  5. Penyeterikaan dengan mesin seterika uap, mesin flat ironer sehingga didapat hasil seterikaan yang baik.
  6. Linen bersih harus di tata sesuai jenisnya dan juga sistem stok linen (minimal 4 bagian) dengan sistem first in first out.

D. Distribusi; Di lakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas penerima, kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai kartu tanda terima.

E. Pengangkutan

  1. Kantong untuk membungkus linen bersih harus di bedakan dengan kantong yang di gunakan untuk membungkus linen kotor.
  2. Menggunakan kereta yang berbeda dan juga tertutup antara linen bersih dan juga linen kotor. Untuk kereta linen kotor di desain dengan pintu membuka keatas dan juga untuk linen bersih dengan pintu membuka ke samping, dan pada setiap sudut sambungan permukaan kereta harus di tutup dengan pelapis (siller) yang kuat agar tidak bocor.
  3. Kereta dorong harus di cuci dengan di sinfektan setelah di gunakan mengangkut linen kotor.
  4. Waktu pengangkutan linen bersih dan juga kotor tidak boleh di lakukan bersamaan.
  5. Linen bersih di angkut dengan kereta dorong yang berbeda warna.
  6. Rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri, pengangkutannya dari dan juga ketempat laundry harus menggunakan mobil khusus.

F. APD; Petugas yang bekerja dalam pengelolan laundry linen harus menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, apron, sepatu boot, penutup kepala, selain itu di lakukan pemeriksaaan kesehatan secara berkala, serta harus memperoleh imunisasi hepatitis B setiap 6 (enam) bulan sekali.

G. Pihak Ketiga; untuk rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri, pencuciannya dapat bekerjasama dengan pihak lain dan juga pihak lain tersebut harus memenuhi persyaratan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, serta di lakukan pengawasan penyelenggaraan linen secara rutin oleh pihak rumah sakit.

Pengelolaan Linen dan Laundry di Krakatau Medika telah memenuhi aturan dan regulasi yang berlaku; sesuai dengan surveilance Sertifikasi Akreditasi Rumah Sakit SNARS.

pelatihan pmkp, Pelatihan PMKP 2024, Pelatihan PMKP Adalah, PMKP, PMKP Adalah, pmkp rumah sakit

Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien (PMKP)

Peningkatan Mutu

 

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) adalah suatu pendekatan yang sistematis dan terencana untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Tujuan PMKP adalah untuk memastikan bahwa pasien menerima asuhan yang aman, efektif, efisien, dan memuaskan. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien merupakan hal yang penting untuk dilakukan di rumah sakit. Hal ini karena rumah sakit merupakan tempat yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, rumah sakit harus memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada pasien adalah yang terbaik.

Mutu dan keselamatan sejatinya berakar dari pekerjaan sehari-hari dari seluruh staf di unit pelayanan seperti staf klinis melakukan asesmen kebutuhan pasien dan juga memberikan pelayanan. Standar PMKP membantu staf klinis untuk memahami bagaimana melakukan peningkatan nyata dalam memberikan asuhan pasien dan juga menurunkan risiko. Demikian pula staf nonklinis dapat memasukkan standar dalam pekerjaan sehari-hari mereka untuk memahami bagaimana suatu proses dapat lebih efisien, sumber daya dapat di gunakan dengan lebih bijaksana, dan juga risiko fisik dapat di kurangi.

Fokus area standar peningkatan mutu dan juga keselamatan pasien adalah:

  1. Pengelolaan kegiatan peningkatan mutu dan juga keselamatan pasien
  2. Pemilihan, pengumpulan, analisis dan juga validasi data indikator mutu
  3. Pelaporan dan juga analisis insiden keselamatan pasien
  4. Pencapaian dan juga mempertahankan perbaikan
  5. Manajemen risiko

Tujuan Kegiatan PMKP 2024

Adapun Tujuan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) antara lain;

  1. Memperkuat dan meningkatkan secara berkelanjutan budaya mutu dan juga keselamatan pasien
    – Kepatuhan terhadap standar Akreditasi tentang Keselamatan Pasien
    – Kepuasan pelanggan
    – Pencapaian Sasaran Keselamatan Pasien (IPSG)
  2.  Menurunkan angka infeksi
    – Pencegahan dan pengendalian infeksi
  3. Memantau kepatuhan terhadap aturan eksternal
    – Kepatuhan terhadap ILM (Library of Measures)
    – Identifikasi tingkat kesalahan (error)
  4. Meningkatkan sistem pengukuran dan juga pelaporan
    – Pengukuran data indikator mutu yang representatif
    – Kepatuhan pelaporan
    – Validasi data hasil pemantauan indikator klinis

Manfaat PMKP antara lain:

  • Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
  • Meningkatkan keselamatan pasien
  • Meningkatkan kepuasan pasien
  • Meningkatkan efisiensi dan juga efektifitas pelayanan kesehatan
  • Meningkatkan kepercayaan masyarakat

 

Kamar Operasi, Kamar Operasi Adalah, Kamar Operasi Rumah Sakit, Keperawatan Kamar Operasi, Keperawatan Kamar Operasi Adalah, pelatihan kamar operasi, pelatihan keperawatan kamar operasi

Keperawatan Kamar Operasi Di Rumah Sakit

Kamar Operasi

Kamar Operasi adalah ruangan khusus memberikan pelayanan berkualitas kepada pasien saat sebelum, selama, dan juga sesaat sesudah di lakukan tindakan pembedahan.

Adapun jenis-jenis kamar adalah sebagai berikut:

  • Kamar Operasi Bersih adalah ruang yang di gunakan untuk operasi pada daerah tubuh tanpa radang. Operasi di ruangan ini di lakukan tanpa membuka saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, atau saluran billier.
  • Kamar Operasi Bersih Terkontaminasi adalah ruang yang di gunakan untuk operasi dengan membuka saluran pernapasan. Ruangan ini juga dapat di lakukan untuk operasi saluran pencernaan, saluran kemih, saluran bilier, atau saluran reproduksi. Jenis pembedahan lainnya yang dapat di lakukan di ruangan ini seperti operasi sectio caesarea (melahirkan caesar), appendiktomi (usus buntu), jahit luka, atau pembedahan sejenis.
  • Kamar Operasi Tidak Bersih adalah ruang yang di lakukan untuk melakukan pembedahan seperti pada saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, saluran bilier, atau saluran reproduksi dengan pencemaran nyata. Pembedahan yang di lakukan pada ruangan ini misalnya adalah apendiktomi perforasi (bocor) atau pembedahan sejenis lainnya.

Ruang operasi di bagi atas beberapa ruang, antara lain;

  • Ruang Pendaftaran/admisi, Ruang tunggu pengantar
  • Ruang transfer / serah terima pasien
  • Ruang tunggu pasien (holding room)
  • Ruang persiapan pasien
  • Ruang induksi
  • Ruang penyiapan peralatan/instrument bedah
  • Ruang operasi, Ruang pemulihan/recovery room
  • Ruang resusitasi bayi/neonates
  • Ruang ganti pakaian (loker)
  • Ruang istirahat, Scrub station
  • Ruang utilitas kotor ( spoel hoek, disposal )
  • Ruang linen
  • Ruang penyimpanan perlengkapan bedah
  • Ruang penyimpanan peralatan kebersihan (janitor)
  • Dari kebutuhan ruang yang ada

Ruangan-ruangan pada bangunan ruang operasi Rumah Sakit juga di bagi kedalam 5 (lima) zona:

  1. Zona Tingkat Resiko Rendah (Normal)
  2. Zona Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
  3. Zona Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
  4. Zona Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan prefilter, medium filter dan juga hepa filter, Tekanan Positif)
  5. Area Nuklei Steril (Meja Operasi)

Sedangkan Tim yang terlibat dalam operasi :

  • Operator bedah/dokter spesialis bedah
  • Asisten operator
  • Perawat instrument / scrub nurse
  • Perawat sirkuler / circuler nurse
  • Dokter anestesi
  • Perawat anestesi

 

Kamar Operasi

Gizi Buruk, Gizi Buruk Balita, Gizi Buruk Kemenkes, Gizi Rumah Sakit, pelatihan gizi seimbang, Pelatihan Gizi Seimbang Rumah Sakit

Penanganan Gizi Buruk Pada Balita

Gizi Buruk

 

Gizi buruk berbeda dengan stunting di tandai dengan badan anak yang terlalu kurus di bandingkan tinggi badannya. Sedangkan stunting di tandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Jika sebelumnya pengertian secara umum dapat di artikan sebagai kondisi serius. Dimana asupan makan seseorang tidak sesuai dengan nutrisi yang semestinya diperlukan. Maka, gizi kurang sendiri dapat di artikan lebih spesifik sebagai kondisi dimana nutrisi tidak dipenuhi dengan baik.

Penyebab Gizi Buruk

Penyebab utamanya adalah kekurangan asupan makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia anak. Kekurangan asupan ini bisa terjadi karena tidak tersedianya bahan makanan yang berkualitas baik. Selain itu, juga sering disebabkan oleh gangguan penyerapan nutrisi akibat penyakit kronis, misalnya diare kronis atau TBC.

Faktor Risiko Gizi Buruk

Risiko terjadinya pada anak bisa meningkat jika ibu hamil memiliki beberapa kondisi atau faktor berikut :

  1. Hamil di usia remaja
  2. Malnutrisi
  3. Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan narkoba
  4. Terinfeksi HIV, sifilis, dan hepatitis B
  5. Tingkat pendidikan rendah
  6. Kemiskinan

Sedangkan pada anak, beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk adalah :

  1. Terlahir prematur atau berat badan lahir rendah.
  2. Mengalami infeksi kronis atau infeksi berulang.
  3. Berkebutuhan khusus, misalnya cerebral palsy.
  4. Terlahir dengan kelainan bawaan, seperti bibir sumbing, kelainan pada sistem pencernaan, malabsorbsi makanan, atau penyakit jantung bawaan.
  5. Mendapatkan pola asuh yang tidak menunjang tumbuh kembangnya.
  6. Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, tidak mendapat akses untuk air bersih, dan berpolusi.

Gejala Gizi Buruk

Gejala yang menunjukkan anak mengalami gizi buruk adalah :

  1. Tubuh anak tampak sangat kurus
  2. Wajah keriput
  3. Kulit kering
  4. Perut tampak buncit
  5. Sering lemas dan tidak aktif bermain
  6. Gangguan tumbuh kembang
  7. Rambut mudah rontok dan tampak kusam
  8. Pembengkakan (edema) di tungkai

Pemeriksaan Gizi Buruk

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, serta mengukur lingkar kepala dan lingkar lengan atas anak. Selanjutnya, seluruh hasil pengukuran tersebut akan dimasukkan ke dalam kurva pertumbuhan WHO.

Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang meliputi :

  • Tes darah, untuk mendeteksi kadar Hb (hemoglobin) dan gangguan elektrolit yang sering terjadi pada anak dengan gizi buruk.
  • Foto rontgen dada dan tes Mantoux, untuk mendeteksi penyakit tuberkulosis yang sering menimbulkan gizi buruk.

Penanganan Gizi Buruk

Anak dengan gizi buruk perlu menjalani rawat inap di rumah sakit agar dokter dapat menstabilkan kondisi dan tanda-tanda vital anak. Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter :

  1. Menyelimuti anak untuk menjaga suhu tubuhnya.
  2. Memberikan cairan infus untuk mengatasi dehidrasi.
  3. Mengobati infeksi dengan pemberian antibiotik.
  4. Memberikan suplemen, berupa vitamin A, zat besi, dan juga asam folat.
  5. Memberikan vaksin

Selain upaya-upaya di atas, dokter juga dapat memberikan makanan cair khusus berupa F75, F100 atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF), melalui mulut atau selang makan secara perlahan dan juga bertahap. Makanan tersebut berisi susu, mentega, minyak, gula, dan juga kacang, yang di tambahkan dengan vitamin dan mineral.

Komplikasi Gizi Buruk

Gizi buruk yang tidak tertangani bisa menyebabkan komplikasi berupa :

  1. Dehidrasi berat
  2. Hipotermia
  3. Anemia
  4. Gangguan tumbuh kembang
  5. Gangguan otak
  6. Terserang penyakit infeksi berat
  7. Kematian

Pencegahan Gizi Buruk

  1. Memberikan makanan bergizi lengkap dan juga seimbang sesuai kebutuhan anak.
  2. Menerapkan pola asuh yang baik.
  3. Memberikan ASI eksklusif hingga usia anak 6 bulan, di lanjutkan dengan memberikan MPASI yang bergizi lengkap dan juga seimbang.
  4. Mengukur tinggi dan juga berat badan anak secara berkala.
  5. Membawa anak untuk segera berobat bila terkena penyakit infeksi.

 

Gizi Buruk

IUD Pasca Persalinan, IUD Pasca Salin, IUD Pasca Salin Adalah, pelatihan iud dan implant, pelatihan iud pasca salin, Pelatihan IUD Pasca Salin 2024

Intrauterine Device (IUD) Pasca Persalinan

Intrauterine device

 

Intrauterine device (IUD) dapat di pasang dini setelah persalinan ataupun ditunda. IUD merupakan metode kontrasepsi yang sering di rekomendasikan bagi wanita pascapersalinan karena efikasinya yang tinggi dalam mencegah kehamilan. Pada periode postpartum, penundaan pemasangan kontrasepsi sering di temukan. Padahal, pemasangan kontrasepsi setelah melahirkan dapat membantu memanjangkan interval antar kehamilan yang bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Mencegah kehamilan yang tidak di rencanakan dengan menggunakan kontrasepsi akan membantu menghindari beban finansial, psikologi, dan kesehatan yang tidak perlu.

Pembagian Waktu Pemasangan Intrauterine Device (IUD)

Pemasangan intrauterine device (IUD) dapat di lakukan pascapersalinan baik pada pasien yang menjalani persalinan spontan maupun sectio caesarea, juga pada pasien yang menyusui ataupun tidak menyusui. Berdasarkan panduan WHO, waktu pemasangan IUD pascapersalinan terbagi menjadi 4 kelompok yaitu:

  • Insersi dini pascaplasenta, yaitu dilakukan dalam waktu 10 menit pasca ekspulsi plasenta
  • Insersi segera pascapersalinan, yaitu di lakukan dalam waktu lebih dari 10 menit sampai 48 jam pascapersalinan
  • Insersi tunda pascapersalinan, yaitu di lakukan dalam waktu lebih dari 48 jam sampai 4 minggu pascapersalinan
  • Insersi interval pascapersalinan, yaitu di lakukan dalam waktu lebih dari 4 minggu pascapersalinan[2–4,17]

Peralatan

Peralatan yang di perlukan untuk pemasangan IUD antara lain:

  1. Satu set IUD steril: umumnya berbentuk T dengan panjang 30-36 mm dan lebar 28-32 mm (ukuran yang lebih kecil di indikasikan untuk nulipara dan remaja/wanita muda)
  2. Spekulum cocor bebek
  3. Gunting panjang
  4. Sonde uterus.
  5. Tenakulum satu gigi
  6. Tampon tang
  7. Sarung tangan steril
  8. Kasa steril
  9. Cairan antiseptik povidone iodine
  10. Larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi alat-alat logam
  11. Lampu sorot ginekologi

Prosedural

Langkah-langkah pemasangan IUD yaitu:

  1. Informed consent: dalam informed consent, pasien perlu dijelaskan secara singkat mengenai prosedur yang akan dijalani dan ketidaknyamanan atau nyeri yang mungkin akan dirasakan saat pemasangan
  2. Pastikan ruangan dengan penerangan cukup dan privasi pasien tetap terjaga. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan tangan dengan kain bersih. Kemudian, pakai sarung tangan steril
  3. Siapkan IUD dan susun alat-alat di atas tempat steril
  4. Anjurkan pasien untuk kencing dan membersihkan alat kelamin. Kemudian, atur posisi pasien litotomi
  5. Nyalakan lampu sorot untuk melihat serviks
  6. Gunakan spekulum untuk visualisasi serviks
  7. Bersihkan atau usap vagina dan serviks dengan kasa steril yang di beri larutan antiseptik
  8. Jepit serviks dengan tenakulum dengan hati-hati
  9. Masukkan sonde uterus secara hati-hati ke dalam uterus (sekali masuk) tanpa menyentuh dinding vagina atau spekulum. Tentukan kedalaman uterus dan posisi uterus
  10. Keluarkan sonde dan ukur kedalaman uterus pada tabung inserter yang masih berada dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru tabung inserter, kemudian buka seluruh plastik penutup kemasan
  11. Pegang tabung inserter dengan leher biru dalam posisi horisontal (sejajar lengan IUD). Lakukan tarikan hati-hati pada tenakulum, masukkan inserter sampai leher biru menyentuh serviks atau sampai terasa ada tahanan
  12. Lepaskan lengan IUD dengan menarik keluar tabung inserter dengan tetap menahan pendorong
  13. Keluarkan pendorong IUD dan tabung inserter di dorong kembali ke serviks secara hati-hati sampai batas leher biru
  14. Keluarkan sebagian benang IUD kurang lebih 3-4 cm dari tabung inserter kemudian di gunting
  15. Keluarkan seluruh tabung inserter
  16. Lepaskan tenakulum dengan hati-hati, pastikan tidak ada perdarahan pada tempat bekas penjepitan tenakulum. Jika ada perdarahan, tekan dengan kasa steril yang di beri povidone iodine selama 30-60 detik
  17. Keluarkan spekulum dengan hati-hati
  18. Rendam tenakulum dan spekulum yang sudah di pakai dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit untuk tindakan dekontaminasi
  19. Buang bahan-bahan yang sudah tidak di pakai lagi (kasa, sarung tangan) ke tempat sampah terkontaminasi
  20. Cuci tangan dengan air mengalir memakai sabun dan keringkan
  21. Evaluasi selama 15 menit dan pastikan pasien tidak mengalami kram hebat
  22. Lengkapi rekam medik pasien dan berikan kartu IUD kepada pasien
Gerontik, Gerontik Adalah, Gerontik Lansia, Pelatihan gerontik, Pelatihan Gerontik 2024

Manajemen Perawat Lanjut Usia Atau Gerontik

Manajemen Perawat Lanjut Usia Atau Gerontik

 

Keperawatan Gerontik adalah suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu dan juga kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosial-spiritual dan juga kultural yang holistik yang di tujukan pada klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan juga masyarakat.

Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada kelompok yang di kategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut aging process. (Cunningham dan Brookbank, 1988).

Batasan – Batasan Lansia

Depkes RI membagi lansia sebagai berikut:

1. Menjelang Usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas
2. Usia Lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium
3. Usia Lanjut (65 tahun <) sebagai masa senium

Sedangkan WHO Lansia dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

1. Usia Lanjut: 60-70 tahun
2. Usia Tua: 75-89 tahun
3. Usia sangat lanjut > 90 tahun

Asuhan keperawatan Gerontik pada lansia bertujuan agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, dengan promotif, preventif dan juga rehabilitatif sehingga lansia memiliki rasa ketenangan dalam hidup dan juga rasa produktif sampai akhir hayatnya. Asuhan keperawatan di tujukan pada aspek bio-psiko-sosial-kultural dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan juga evaluasi.

Adapun asuhan keperawatan dasar yang di berikan di sesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:

1. Untuk lanjut usia aktif
Asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hyang iene, kebersihan gigi dan juga mulut atau gigi palsu. Kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga,
kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan serta makanan yang sesuai.

2. Untuk lanjut usia pasif
Asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif (tergantung pada orang lain) pada dasarnya sama dengan lanjut usia aktif dengan bantuan
anggota keluarga maupun tenaga puskesmas. Fokus asuhan keperawatan pada lansia di tekankan pada:

  • Peningkatan kesehatan (health promotion)
  • Pencegahan penyakit (preventif)
  • Mengoptimalkan fungsi mental
  • Mengatasi gangguan kesehatan yang umum
implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi dasar, Pelatihan Implementasi Desinfeksi Dan Sterilisasi Rumah Sakit, Pelatihan PPI, Pelatihan PPI 2024, Pelatihan PPI Adalah, pelatihan ppi dasar, Pelatihan PPI Dasar 2024

Impelmentasi Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)

Pencegahan dan Pengendalian

 

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya di singkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan. Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections) yang selanjutnya di singkat HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di mana ketika masuk tidak ada infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Tujuan pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

  • Untuk memutus rantai infeksi sehingga dapat meminimalkan insiden HAIs pada fasyankes. PPI wajib di laksanakan oleh seluruh individu baik pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat pada fasyankes. Seperti melakukan kebersihan tangan, pemakaian Alat Pelindung Diri dengan benar, pengendalian lingkungan, penanganan limbah dengan benar dan lain-lain.

Indikator Mutu PPI

  • Surveilans HaIs. VAP. ISK. IDO. Phlebitis. Dekubitus.
  • Kepatuhan Kebersihan Tangan.
  • Kepatuhan penggunaan APD.
  • Kegiatan pencatatan dan pelaporan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit.

Untuk menurunkan atau meminimalkan insiden rate HAIs ini maka di buatlah suatu kebijakan dari Kemenkes bahwa setiap Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya harus melaksanakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Namun sangat di sayangkan saat ini masih banyak pihak manajemen Rumah Sakit yang kurang peduli dengan masalah ini. Sehingga pelaksanaan PPI hanya karena kebutuhan adanya akreditasi. Yang seharusnya merupakan suatu standar yang harus di laksanakan oleh Rumah Sakit dan Fasyankes lainnya

Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya memiliki peran untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang meliputi preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Pelayanan kesehatan yang diberikan harus bermutu, bertanggung jawab dan transparan, untuk keamanan pasien (patient safety) Salah satu goals dari Patient safety adalah menurunkan insiden rate infeksi terkait pelayanan kesehatan yang saat ini dikenal sebagai HAIs (Healtcare Associetd Infections).

HAIs dapat meningkatkan hari rawat yang lama, sehingga meningkatkan biaya, produktifitas pasien maupun Rumah Sakit akan menurun. Dan dapat menimbulkan kematian atau kecacatan bahkan dapat timbul tuntutan hukum, mutu dan citra pelayanan Kesehatan akan menurun. Banyak faktor penyebab terjadinya infeksi terkait pelayanan kesehatan antara lain, kurangnya pengetahuan, kurangnya fasilitas, kepatuhan terhadap standar prosedural buruk, kondisi pasien yang sangat kompleks, kurang kepeduliaan dari tenaga kesehatan.

 

 

Pencegahan dan Pengendalian

service excellence rumah sakit, Service Excellent, Service Excellent Adalah, service excellent dalam penyelenggaraan kesehatan, Service Excellent Rumah Sakit, service excellent training

Service Excellent & Handling Customer Complaint di Rumah Sakit

Service Excellent & Handling Customer Complaint

 

 

Service excellent di sebut Seni menciptakan nilai bagi orang lain ialah bagaimana menciptakan kesan yang baik, yang selalu di ingat orang lain terhadap diri kita,  Excellent adalah sesuatu yang di berikan mempunyai kualitas tinggi dan juga melebihi apa yang di harapkan oleh pelanggan., maka pengertian excellent service atau pelayanan prima adalah suatu pelayanan yang terbaik dan juga memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan bahkan lebih.

Dalam hal ini,  Service excellent bukanlah pelayanan yang mewah, sebaliknya definisi konsep ini justru sederhana, yaitu secara konsisten memberikan pelayanan yang sesuai bahkan melebihi ekspektasi pengguna layanan. Pasien atau keluarga pasien berhak mengajukan komplain dan juga keluhan apabila mereka merasa pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut terdapat kekeliruan dan ketidakpuasan. Biasanya komplain akan segera di ungkapkan pasien secara langsung melalui tenaga medis yang bertugas saat itu. Padahal masyarakat perlu mengetahui bagaimana SOP dan juga alur penanganan komplain di rumah sakit agar mereka gak asal mengeluhkan pelayanan kepada semua tenaga medis yang bergantian jam bertugasnya.

Cara Mengatasi Komplain Pasien di Rumah Sakit

SOP penanganan komplain di rumah sakit penting untuk di buat setiap rumah sakit dengan tujuan agar manajemen rumah sakit mengetahui kekurangan sistem operasional rumah sakit saat ini dan juga mendengar langsung persoalan yang sering di alami pasien dan juga keluarganya sehingga Anda bisa segera memperbaikinya.

Berdasarkan Keputusan Ketua Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia Nomor HK.02.04/III.8/066/2016 tentang Tata Cara Penanganan Pengaduan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi menyebutkan 8 prinsip penerimaan dan penanganan pengaduan di rumah sakit.

1. Objektivitas
2. Koordinasi
3. Efektivitas dan Efisiensi
4. Akuntabilitas
5. Kerahasiaan
6. Transparan
7. Asas Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence)
8. Proses Pemeriksaan dan juga Penyelidikan Dilengkapi dengan Dokumen Tertulis

Pentingnya Sistem Manajemen Komplain pada Rumah Sakit

Komplain yang di ajukan pasien umumnya berkaitan tentang kepuasan mereka terhadap pelayanan rumah sakit. Adapun contoh kasus komplain pasien di rumah sakit, sebagai berikut:

  • Ketidakpuasan terhadap fasilitas rumah sakit.
  • Tenaga medis kurang memperhatikan kondisi kesehatan pasien, misalnya suster yang lupa memberi tahu perkembangan pasien kepada dokter ataupun sebaliknya.
  • Pasien diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dalam kondisi masih sakit.
  • Rumah sakit membocorkan data kerahasiaan pasien.
  • Ruma sakit tidak meminta informed consent pasien.
  • Pasien merasa diperlakukan tidak wajar dan juga perlakuan kurang sopan.

 

 

Service excellent

 

Pelatihan perencanaan sdm rumah sakit, Perencanaan SDM, Perencanaan SDM Adalah, perencanaan sdm rumah sakit, Sistem Perencanaan SDM

Sistem Perencanaan SDM di Rumah Sakit

Perencanaan SDM

 

Perencanaan SDM adalah proses sistematis dan juga berkelanjutan untuk menganalisis kebutuhan organisasi terhadap SDM dalam situasi yang selalu berubah serta mengembangkan kebijakan personalia yang sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi.

Proses perencanaan SDM

Secara mendasar, proses perencanaan sumber daya manusia melibatkan tiga poin utama, yaitu:

1) Proses pembentukan data rekapitulasi
Pada tahap ini, perusahaan membentuk data administrasi yang ada untuk melakukan analisis dan juga simulasi. Tujuannya, mendapatkan gambaran tentang kekuatan SDM saat ini, termasuk ketersediaan dan juga kompetensi karyawan.

2) Proses pengadaan SDM
Tahap kedua melibatkan pengumpulan informasi terkait calon karyawan potensial serta penilaian dan juga penerapan kriteria tertentu untuk proses rekrutmen.

3) Proses alokasi SDM
Pada terkahir, data administrasi di gunakan untuk menganalisis dan juga menentukan penempatan karyawan agar lebih tepat. Penempatan akan di sesuaikan dengan kompetensi dan/atau kebutuhan perusahaan.

Dengan menjalankan ketiganya, perencanaan SDM dapat di lakukan dengan lebih terstruktur dan juga terarah, membantu perusahaan dalam mengelola kekuatan manusia, serta mengidentifikasi kebutuhan dan penempatan yang optimal.

Sistem perencanaan SDM

Sistem perencanaan SDM di rumah sakit merupakan suatu pendekatan yang penting untuk memastikan bahwa rumah sakit memiliki jumlah, kualitas, dan SDM profesional yang memadai.

Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam sistem perencanaan SDM di rumah sakit antara lain:

1) Penyusunan Pedoman
Kementerian kesehatan menetapkan pedoman penyusunan perencanaan sumber daya manusia kesehatan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta rumah sakit.

2) Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan tenaga kerja dengan menggunakan metode seperti workload indicators of staffing need (WISN) untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang di perlukan berdasarkan beban kerja yang ada.

3) Pengelolaan Data
Pencatatan data menjadi bagian dari dokumentasi data pada sistem informasi manajemen rumah sakit.

4) Peraturan dan Tata Tertib Kerja
Rumah sakit perlu membuat kebijakan tentang sistem kepegawaian, peraturan, dan tata tertib kerja.

5) Pendidikan dan Pelatihan
Menyediakan pendidikan dan pelatihan kepada SDM rumah sakit berguna untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk menjalankan tugas dan fungsi kerja.

Sistem perencanaan SDM di rumah sakit bertujuan untuk memastikan bahwa rumah sakit memiliki SDM berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.