Manajemen Farmasi, Manajemen Farmasi Adalah, Manajemen Farmasi Apotek, Manajemen Farmasi di Puskesmas, Manajemen Farmasi Rumah Sakit

Manajemen Farmasi Pengelolaan Di Rumah Sakit

Manajemen Farmasi

 

 

Sistem manajemen farmasi merupakan sistem terpadu yang mengelola produk ritel dan obat-obatan dan mengotomatiskan operasi seperti pengendalian stok, pengeluaran obat, manajemen klaim, penagihan, dan juga pelaporan. Manajemen Farmasi Rumah Sakit (MFRS) dapat didefinisikan sebagai suatu departemen atau unit di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh asisten apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan juga kompeten secara professional, tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri dari pelayanan paripurna, mencakup perencanaan, mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan atau sediaan farmasi; dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan juga rawat jalan; pengendalian mutu; dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit; pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis, mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan.

Sistem manajemen farmasi merupakan sistem terpadu yang mengelola produk ritel dan obat-obatan dan mengotomatiskan operasi seperti: 

  • Pengendalian stok
  • Pengeluaran obat
  • Manajemen klaim
  • Penagihan
  • Pelaporan

Pelayanan farmasi klinik meliputi:

  1. Pengkajian Resep
  2. Dispensing
  3. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
  4. Konseling
  5. Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care)
  6. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
  7. Monitoring Efek Samping Obat (MESO).

Berikut adalah beberapa keuntungan jika menggunakan Sistem Manajemen Farmasi.

  • Inventaris di perbarui secara real time, Anda tidak kekurangan data historis, dan dapat membuat
  • laporan dengan mudah. Plus, inventaris Anda mudah untuk di analisis.
  • Persiapan resep memakan waktu lebih sedikit.
  • Klaim tidak lagi di tolak karena informasi yang salah atau hilang atau kesalahan penagihan.
  • Mendokumentasikan catatan pasien dan pembayaran tidak lagi menyita jadwal apoteker.

Di era teknologi yang berkembang seperti saat ini, semua tantangan ini dapat di penuhi oleh software sistem manajemen farmasi. Sistem manajemen farmasi merupakan sistem terpadu yang mengelola produk ritel dan obat-obatan dan mengotomatiskan operasi seperti pengendalian stok, pengeluaran obat, manajemen klaim, penagihan, dan pelaporan. Perangkat lunak semacam itu memberi departemen farmasi gambaran besar tentang kinerja bisnis dan ikhtisar real-time tentang biaya, pendapatan, dan juga penjualan. Bisnis farmasi yang berpikiran maju telah beralih ke digital untuk mengelola bisnis mereka. Penggunaan sistem manajemen farmasi seperti Trustmedis sudah menjadi hal yang wajib.

Trustmedis sebagai aplikasi kesehatan online terbaik di Indonesia, menyediakan Modul Farmasi untuk membantu pekerjaan farmasi lebih efektif dan juga efisien. Modul farmasi dari Trustmedis memiliki kelebihan di antaranya yakni usulan pengadaan, rencana pengadaan, surat pesanan, terima barang, dan retur pembelian farmasi beserta layanan apotek yang menjual obat dan alkes secara mudah dan lengkap. Fitur lainnya ialah penanganan stok obat dan alkes, opname, sekaligus mutasi farmasi serta pembuangan dan pengalihannya. Fitur yang tidak kalah penting lain yang di miliki Modul Farmasi Trustmedis ialah mencetak laporan hpp, pareto, persediaan, pemakaian BHP hingga laporan stok keluar penjualan.

Modul Farmasi Trustmedis juga memiliki fitur unggulan seperti:

  • Notifikasi E-resep dan Obat Kadaluarsa.
  • Laporan Persediaan
  • Pelacakan obat secara realtime dan mudah

 

Manajemen Farmasi

Hygiene Dan Sanitasi, hygiene sanitasi rumah sakit, pelatihan hygiene dan sanitasi, Pelatihan Hygiene Dan Sanitasi 2024, Pelatihan Hygiene Dan Sanitasi Rs, pelatihan hygiene dan sanitasi rumah sakit, pelatihan hygiene sanitasi

Hygiene Dan Sanitasi Di Rumah Sakit

Hygiene dan sanitasi

 

Hygiene dan sanitasi merupakan suatu tindakan atau upaya untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan melalui pemeliharaan dini setiap individu dan juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya, agar individu terhindar dari ancaman kuman penyebab penyakit (Depkes RI, 2005). Hygiene adalah suatu pencegahan penyakit yang menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada Sedangkan Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.

Di samping itu rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang di sediakan untuk umum, tempat berkumpulnya orang sakit maupun sehat, yang memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, dan juga atau sumber penularan penyakit. Untuk menghindari hal yang tidak menguntungkan tersebut, maka lingkungan maupun prasarana rumah sakit perlu di pelihara dengan baik termasuk juga kebersihan personal seluruh sumber daya manusia rumah sakit sesuai dengan persyaratan kesehatan. Hal ini menjadikan para pengembang jasa pelayanan masyarakat dari waktu ke waktu untuk senantiasa mengembangkan pengetahuan dan juga kompetensi sumber daya manusia (SDM) salah satunya adalah yang terkait dengan Hygiene dan Sanitasi di rumah sakit.

Manfaat penerapan Hygiene dan Sanitasi di lingkungan adalah :

  1. Mencegah penyakit menular,
  2. Mencegah kecelakaan,
  3. Mencegah timbulnya bau tidak sedap,
  4. Menghindari pencemaran,
  5. Mengurangi jumlah (persentase sakit),
  6. Lingkungan menjadi bersih, sehat dan juga nyaman.

Contoh Hygiene Berikut ini adalah contoh tindakan personal hygiene:

  1. Mencuci tangan hingga bersih setiap kali akan makan.
  2. Mandi dan juga menggosok gigi secara teratur untuk menjaga kebersihan tubuh.
  3. Menjaga kebersihan bahan makanan dan juga makanan yang telah di olah.

Sasaran Pengelolan Sanitasi lingkup rumah sakit:

  • Seluruh ruangan dan bangunan Rumah Sakit.
  • Fasilitas dan peralatan sanitasi.
  • Fasilitas dan peralatan tempat pengelolaan makanan dan minuman.
  • Fasilitas dan peralatan tempat pencucian/linen.
  • Fasilitas sterilisasi.
  • Instalasi air bersih.
  • Instalasi pengolahan air Limbah.

Kegiatan Higiene dan Sanitasi di Rumah Sakit

Sanitarian/Kesehatan Lingkungan
Sanitasi rumah sakit pertama yang perlu dipahami adalah berkaitan dengan kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan ini dibagi lagi menjadi beberapa subjek sesuai dengan fokusnya. Adapun subjek yang dimaksud langsung cek semuanya di bawah ini!

Penyehatan Ruang Bangunan Rumah Sakit

Kegiatan sanitasi yang di lakukan oleh penyehatan ruang bangunan rumah sakit berkaitan dengan:

  • Proses pemantauan kelembaban, suhu, pencahayaan dan kebisingan
  • Pengawasan dan pemantauan ventilasi udara maupun pengaturannya
  • Pengawasan mikrobiologi di udara.
  • Memberikan arahan kepada supervisor petugas kebersihan
  • Pemantauan kebersihan ruangan, halaman rumah sakit dan parkir
  • Membuat laporan evaluasi pekerjaan kebersihan
  • Mengawasi kegiatan petugas kebersihan/cleaning service

 

hygiene dan sanitasi

 

Manajemen Keuangan Rs, Manajemen Keuangan Rumah Sakit, Manajemen Keuangan Rumah Sakit Adalah, pelatihan keuangan rumah sakit, Pelatihan manajemen keuangan rumah sakit

Manajemen Keuangan Rumah Sakit

Manajemen Keuangan

 

Manajemen keuangan rumah sakit merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan juga pengawasan atas semua aktivitas keuangan yang terkait dengan operasional rumah sakit.

Strategi Manajemen Keuangan Rumah Sakit

Agar dapat mengelola keuangan rumah sakit dengan baik dan juga mencapai keberhasilan keuangan, di perlukan strategi yang efektif dalam manajemen keuangan. Beberapa strategi yang dapat di lakukan antara lain:

  • Perencanaan Anggaran
    Membuat perencanaan anggaran dengan mempertimbangkan biaya operasional dan juga investasi jangka panjang. Hal ini dapat membantu dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya keuangan.
  • Pengelolaan Kas
    Mengelola kas dengan baik dan juga menjaga likuiditas. Rumah sakit harus memastikan bahwa arus kas masuk dan juga keluar seimbang, serta memiliki cadangan kas yang cukup untuk menghadapi kondisi darurat.
  • Pengelolaan Aset
    Mengelola aset dengan baik dan juga memastikan aset di gunakan secara efektif. Rumah sakit harus mengidentifikasi aset yang tidak produktif dan juga mengalokasikan aset yang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar.
  • Peningkatan Pelayanan Kesehatan
    Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dapat meningkatkan reputasi dan juga kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit. Hal ini dapat meningkatkan jumlah pasien dan juga pendapatan rumah sakit.
  • Pengelolaan Risiko Medis
    Mengelola risiko medis dengan baik dan juga memastikan rumah sakit memiliki asuransi malpraktik yang memadai. Hal ini dapat membantu rumah sakit menghindari risiko finansial yang tinggi akibat tuntutan klaim malpraktik.
  • Peningkatan Efisiensi Operasional
    Meningkatkan efisiensi operasional dengan melakukan analisis biaya dan juga keuntungan. Hal ini dapat membantu rumah sakit mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan juga meminimalkan biaya operasional yang tidak perlu.
  • Teknologi dan Inovasi
    Menggunakan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan. Teknologi dapat membantu rumah sakit dalam pengelolaan data, monitoring pasien, dan proses diagnosa serta pengobatan.

Keuntungan Manajemen Keuangan Rumah Sakit

Manajemen keuangan rumah sakit yang efektif dapat memberikan banyak keuntungan bagi rumah sakit, antara lain:

  • Mencapai Keberhasilan Keuangan
    Dapat membantu rumah sakit mencapai tujuan keuangan yang diinginkan. Hal ini dapat meningkatkan keberlangsungan rumah sakit dan memberikan keuntungan finansial.
  • Peningkatan Kualitas Pelayanan
    Manajemen keuangan yang efektif dapat membantu rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan jumlah pasien yang datang.
  • Pengendalian Biaya Operasional
    Manajemen keuangan yang baik dapat membantu rumah sakit dalam mengendalikan biaya operasional yang tinggi. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya.
  • Meningkatkan Reputasi Rumah Sakit
    Manajemen keuangan yang baik dapat membantu meningkatkan reputasi rumah sakit dalam masyarakat. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan jumlah pasien yang datang.
kredensial keperawatan, Kredensial Keperawatan Adalah, kredensial keperawatan dasar, Kredensial Keperawatan Rumah Sakit, pelatihan kredensial perawat

Kredensial Keperawatan Di Rumah Sakit

Kredensial Keperawatan

 

Kredensial adalah proses evaluasi terhadap tenaga keperawatan untuk menentukan kelayakan pemberian Kewenangan Klinis. Salah satu upaya yang dilakukan profesi keperawatan adalah dengan adanya kredensial keperawatan di rumah sakit. Kredensial adalah proses evaluasi terhadap tenaga keperawatan untuk menentukan kelayakan pemberian kewenangan klinis.

Untuk menjaga keselamatan pasien adalah dengan menjaga standar profesi dan juga kompetensi para staf medisnya yang melakukan tindakan medis terhadap pasien. Walaupun seseorang telah memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan medis, hal itu harus di buktikan lagi dengan pemeriksaan kembali kompetensi seseorang tersebut dalam melakukan tindakan medis dan juga tindakan-tindakan yang berhubungan dengan spesialisasi tersebut. Proses pembuktian tersebut berpengaruh terhadap pengakuan profesi yang di berikan kepada individu, yang mempunyai otoritas atau di anggap kompeten dalam melakukan suatu tindakan tersebut, dan hal itu akan tercakup dalam proses kredensial.

Kredensial Penunjang Medis perlu di lakukan mengingat lingkup suatu cabang ilmu kesehatan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu, sehingga tenaga kesehatan harus mengikuti perkembangan agar dapat menjaga kompetensinya untuk kelaikan mengemban kewenangan klinis tersebut. Melalui penyelenggaraan kredensial dan juga rekredensial, evaluasi di lakukan terhadap pemenuhan kompetensi tersebut. Faktor lain yang melatarbelakangi kredensial adalah keadaan fisik dan mental seorang tenaga kesehatan dapat menurun akibat penyakit tertentu atau bertambahnya usia yang dapat memengaruhi kompetensinya.

 

Tujuan Kredensial Proses kredensial sangat penting dilaksanakan oleh rumah sakit dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
  2. Menetapkan standar pelayanan
  3. Menilai boleh tidaknya praktik
  4. Menentukan dan juga mempertahankan kompetensi
  5. Membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik hanya untuk yang kompeten
  6. Melidungi pasien serta staf medis yang bersangkutan, atas tindakan yang dilakukan.

Ketentuan mengenai tim kredensial adalah sebagai berikut:

  • Persyaratan tim kredensial

A. Umum

  1. Memiliki jenis profesi yang sama dengan tenaga kesehatan yang akan dikredensial/rekredensial
  2. Tidak pernah terkena sanksi etika, disiplin, dan juga hukum
  3. Tidak memiliki konflik kepentingan
  4. Memiliki kualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya sama dengan tenaga kesehatan yang akan di kredensial/ di rekredensial;

B. Khusus untuk perwakilan dinas kesehatan daerah kabupaten/kota

  1. Memiliki jenis jabatan fungsional yang sama dengan tenaga kesehatan yang akan di kredensial dan/atau rekredensial
  2. Memiliki jenjang jabatan sekurang-kurangnya sama dengan jabatan fungsional tenaga kesehatan yang akan di kredensial dan/atau rekredensial

C. Khusus untuk perwakilan organisasi profesi

1. Memiliki surat penugasan dari organisasi profesi
2. Tugas tim kredensial

  • Menyusun instrumen penilaian
  • Melakukan penilaian kewenangan klinis
  • Merekomendasikan kewenangan klinis

3. Kewenangan tim kredensial

  • Melaksanakan proses kredensi secara independen
  • Memeriksa kelengkapan berkas pengusulan tenaga kesehatan yang akan mengikuti kredensial/rekredensial
  • Meminta data/dokumen tambahan kepada peserta maupun pihak yang terkait bila di perlukan

Tim kredensial bertugas untuk periode waktu tertentu yang di tetapkan oleh kepala dinas kesehatan daerah kabupatan/ kota dengan mempertimbangkan mobilitas dari anggota tim. Dengan demikian, tim tersebut dapat melakukan kredensial dan/atau rekredensial lebih dari satu kali selama masa penugasannya. Contoh surat keputusan kepala dinas kesehatan daerah kabupaten/kota tentang penetapan tim kredensial terdapat dalam Lampiran A.

Kredensial Keperawatan

Manajemen Radiologi, Manajemen Radiologi Adalah, manajemen radiologi rumah sakit, pelatihan manajemen radiologi, Pelatihan radiologi

Manajemen Radiologi Di Rumah Sakit

Manajemen Radiologi

 

“MANAJEMEN RADIOLOGI RUMAH SAKIT ”

Manajemen Radiologi adalah suatu sistem yang mengurus, mengatur dan juga mengelola suatu kegiatan dalam Radiologi. Radiologi adalah bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari tentang teknologi pencitraan, baik gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik guna memindai bagian dalam tubuh manusia untuk mendeteksi suatu penyakit. Dalam hal ini, Manajemen Radiologi memiliki peran dalam penanganan kondisi medis pasien, dalam tiga bidang radiologi yang dapat membantu dokter utama yang menangani pasien dalam penegakan diagnosis dan juga pengobatan penyakit, peran lain manajemen radiologi adalah juga untuk mencegah operasi invasif yang tidak perlu.

Radiologi umum (radiologi diagnostik)

Bidang radiologi ini memiliki fokus pada pemeriksaan dan juga diagnosis terhadap penyebab dan juga gejala yang dialami pasien. Radiologi umum juga berperan dalam mengevaluasi kondisi dan juga hasil perawatan pasien. Ada beberapa jenis pemeriksaan radiologi diagnostik yang paling umum dilakukan, di antaranya:

  1. Foto Rontgen
  2. USG (ultrasonografi)
  3. Fluoroskopi
  4. Mammografi
  5. Angiografi
  6. CT scan (computed tomography scan)
  7. MRI (magnetic resonance imaging)
  8. PET scan (positron emission tomography scan)
  9. Pencitraan nuklir

Pada kondisi tertentu, dokter spesialis radiologi akan menggunakan zat khusus yang di sebut zat kontras untuk mempertajam dan juga meningkatkan kualitas gambar yang di hasilkan, sehingga di agnosis penyakit dapat di lakukan dengan lebih baik.

Secara keilmuan, bidang radiologi umum terbagi dalam beberapa subspesialis yang meliputi:

  • Radiologi kepala dan leher
  • Radiologi dada (toraks)
  • Radiologi anak
  • Radiologi saluran kemih dan organ genital
  • Radiologi payudara
  • Radiologi intervensional dan jantung pembuluh darah (kardiovaskular)
  • Radiologi tulang dan otot (muskuloskeletal)
  • Radiologi saluran cerna
  • Neuroradiologi atau radiologi sistem saraf dan otak
  • Kedokteran nuklir

Radiologi intervensi

Dalam kedokteran radiologi intervensi, dokter spesialis radiologi menggunakan pencitraan, seperti CT scan, USG, MRI, dan juga fluoroskopi, untuk memandu prosedur medis tertentu.

Metode pencitraan ini bertujuan untuk membantu dokter saat memasang kateter atau memasukkan instrumen bedah melalui sayatan kecil ke dalam tubuh pasien.

Pemeriksaan radiologi intervensi sering terlibat dalam penanganan kanker atau tumor, penyumbatan di pembuluh darah arteri dan vena, fibroid rahim, nyeri punggung, penyakit hati dan juga ginjal, kelainan paru-paru, gangguan sistem saluran kemih dan juga saluran cerna, hingga masalah pada otak seperti stroke.

Prosedur radiologi intervensi meliputi angiografi dan pemasangan ring pada pembuluh darah, embolisasi untuk mengontrol pendarahan, ablasi tumor, biopsi jarum halus pada organ tertentu, biopsi payudara, penempatan selang makan (NGT atau pipa nasogastrik), hingga pemasangan kateter akses vena.

Radiologi Onkologi

Dokter radiologi dalam bidang ini bertugas meresepkan dan juga mengawasi setiap rencana perawatan pasien kanker menggunakan terapi radiasi (radioterapi). Dokter radiologi onkologi juga akan memantau kemajuan kondisi pasien dan menyesuaikan pengobatan pasien.

Tugas Dokter Spesialis Radiologi

Tugas pokok seorang dokter spesialis radiologi meliputi:

  • Menentukan metode tes pencitraan yang paling efektif dan aman bagi pasien
  • Melaksanakan pemeriksaan radiologi bersama radiografer atau teknisi radiologi
  • Menganalisis, mengevaluasi, dan membacakan hasil pemeriksaan radiologi pasien
  • Menentukan jenis kelainan dan tingkat keparahan kondisi yang diderita pasien
  • Menyarankan pemeriksaan lanjutan atau pengobatan untuk pasien, jika diperlukan

Kewenangan Klinis Dokter Spesialis Radiologi

Ada beragam kewenangan klinis seorang dokter spesialis radiologi menurut bidangnya, yaitu:

1. Bidang radiologi dada (toraks)
Prosedur pemeriksaan radiologi yang di lakukan meliputi radiografi konvensional atau foto Rontgen dada, CT scan rongga dada, dan juga USG pleura.

2. Bidang muskuloskeletal
Jenis pemeriksaan radiologi yang dapat di lakukan meliputi foto Rontgen tulang dan otot, CT scan tulang, MRI tulang, pemindaian tulang (bone scan), serta USG Doppler sendi dan juga jaringan lunak.

3. Bidang saluran kemih dan organ genital
Metode pemeriksaan radiologi yang dapat di lakukan meliputi urografi intravena, uretrosistografi, micturating cysto urethrography (MCU), uretrografi, USG Doppler saluran kemih, USG testis, genitografi, CT/MR urografi, dan MRI organ kelamin dalam.

4. Bidang saluran cerna
Prosedur pemeriksaan radiologi yang di lakukan meliputi foto Rontgen perut (abdomen), barium meal, barium enema, lopografi, fistulografi, CT kolonoskopi, ERCP, dan juga CT/MRI saluran cerna.

5. Bidang neuroradiologi (saraf dan otak)
Jenis pemeriksaan radiologi yang di lakukan adalah CT scan dan MRI otak serta saraf tulang belakang, MR myelography, dan USG otak.

6. Bidang radiologi intervensional dan juga kardiovaskular
Prosedur pemeriksaan radiologi yang di lakukan meliputi angiografi, venografi, limfografi, mielografi, embolisasi transarterial, dan biopsi terpimpin (guiding biopsy).

7. Bidang pencitraan payudara
Prosedur pemeriksaan radiologi pada payudara meliputi mammografi, USG payudara, MRI dan CT scan payudara, serta duktulografi atau pemeriksaan saluran susu.

8. Bidang pencitraan kepala-leher
Prosedur pemeriksaan radiologi yang di lakukan meliputi radiografi konvensional, CT scan kepala dan leher, MRI kepala dan leher, USG leher, sialografi atau pemeriksaan kelenjar liur, dan juga dakriosistografi atau pemeriksaan kelenjar air mata.

9. Bidang kedokteran nuklir
Jenis pemeriksaan yang dapat di lakukan meliputi skintigrafi tulang, skintigrafi ginjal, limfoskintigrafi, skintigrafi tiroid, dan juga skintigrafi hepatobiliar.

Kondisi Medis yang dapat Di deteksi Melalui Pemeriksaan Radiologi

Berikut ini adalah beberapa kondisi medis yang dapat di deteksi oleh dokter spesialis radiologi melalui pemeriksaan radiologi:

  1. Kanker dan tumor
  2. Kelainan pada paru-paru, seperti pneumonia, bronkopnemonia, tuberkulosis, bronkitis, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), pneumotoraks, dan juga hematotoraks
  3. Kelainan pada saluran cerna, seperti gangguan menelan karena akalasia, penyakit asam lambung, kolesistitis, peritonitis, perdarahan pada saluran cerna, hernia, hingga adanya luka pada di nding saluran cerna akibat infeksi atau radang
  4. Kelainan pada saluran kemih, seperti infeksi saluran kemih, infeksi ginjal atau pielonefritis, sumbatan pada saluran kemih atau kandung kemih, pembesaran prostat, dan juga batu saluran kemih
  5. Kelainan pada jantung dan juga pembuluh darah, seperti gagal jantung kongestif, penyakit jantung, aterosklerosis, penyakit katup jantung, gangguan otot jantung, varises, trombosis vena dalam (DVT), dan malformasi arteri vena
  6. Kelainan pada saraf dan otak, seperti meningitis, ensefalitis, infark serebal, stroke, perdarahan otak, hematoma subdural, dan juga hidrosefalus
  7. Kelainan pada organ reproduksi, seperti torsio testis, varikokel, kista ovarium, miom uteri (fibroid rahim), dan juga infeksi rahim
  8. Kelainan pada sistem muskuloskeletal, seperti patah tulang tertutup, pergeseran tulang dan juga sendi, tumor tulang, serta massa jaringan lunak

Manajemen Diklat Rs, Manajemen Diklat Rumah Sakit, Pelaihan Manajemen Diklat Rumah Sakit, Pelatihan Manajemen Diklat Rs, Pelatihan Manajemen Diklat Rs 2024

Manajemen Diklat Pada Rumah Sakit

Manajemen Diklat

 

 

Program Manajemen Diklat Rumah Sakit merupakan suatu upaya strategis manajemen yang bertujuan untuk mengembangkan SDM dalam rangka meningkatkan kinerja suatu organisasi. Hampir setiap organisasi yang besar memilikinya, namun tidak semua dapat menyelenggarakan diklat secara baik. Suatu upaya strategis manajemen yang bertujuan untuk mengembangkan SDM dalam rangka meningkatkan kinerja suatu organisasi. Akan pentingnya pelatihan dan juga pengembangan tenaga rumah sakit sudah menjadi isu global dan juga banyak di sebar dalam berbagai bentuk publikasi, pelatihan dan juga pengembangan di rumah sakit seringkali tidak di jadikan prioritas. Salah satu alasannya adalah karena terbentur dengan alokasi pendanaan yang cukup besar dan juga merasa tidak menghasilkan apa-apa secara signifikan. Padahal program pelatihan dan juga pengembangan merupakan hal yang perlu di lakukan secara berkala dan juga kontinyu. Pengembangan dan pelatihan tenaga di rumah sakit dapat menjadi suatu langkah strategis manajemen rumah sakit dalam menyediakan pelayanan kesehatan dengan optimal.

Rumah Sakit dalam memberikan pelayanannya tentunya staff rumah sakit secara berkala memperoleh pelatihan dari bagian rumah sakit. Adapun tugas dan fungsi bagian rumah sakit selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia rumah sakit juga mampu menjalin kerjasama dalam penyelenggaraan pendidikan dan juga pelatihan. Dalam penyelenggaraan tentunya di sesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan di lapangan. Oleh karena itu di perlukan pengetahuan dan juga keterampilan dalam merencanakan sampai dengan evaluasi program pendidikan dan juga latihan bagi SDM di rumah sakit agar mampu memberikan pelayanan yang prima kepada pasien dan juga keluarga.

MATERI

  1. Filosofi pelatihan
  2. Siklus diklat
  3. Pengkajian kebutuhan pelatihan (TNA)
  4. Perumusan Tujuan pelatihan
  5. Rancangan Diklat
  6. Penyusunan Kurikulum dan GBPP
  7. Penyelenggaraan Pelatihan (Training Delivery)
  8. Master of Training
  9. Metode Pembelajaran
  10. Akreditasi Pelatihan
  11. Evaluasi Pelatihan
  12. Pengendalian Mutu Pelatihan

BIAYA & FASILITAS

Paket A Rp 5.500.000,- /peserta
Menginap di Grage Bussines Hotel MalioboroYogyakarta
(1 kamar/peserta) selama 3 hari 2 malam, konsumsi (makan pagi, makan siang, makan malam), Coffee break 2 kali sehari, sertifikat, Training kit, foto bersama dan sebuah tas eksklusif.

Paket B Rp 4.500.000,-/peserta
Tanpa Menginap di Hotel, Coffee break 2 kali sehari dengan makan siang di hotel selama 2 hari. Training kit, sertifikat, foto bersama dan sebuah tas eksklusif.

Untuk Info Pelatihan Lebih Lanjut KLIK DI SINI

 

manajemen laundry rumah sakit, manajemen linen rumah sakit, Pelatihan Linen & Laundry, pelatihan manajemen linen dan laundry rumah sakit

Pengelolaan Manajemen Linen & Laundry Rumah Sakit

Manajemen Linen

 

Manajemen Linen dan Laundry adalah upaya pengelolaan dan pengawasan terhadap tahapan-tahapan pencucian linen di rumah sakit untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan dan juga lingkungan hidup yang di timbulkan. Maksud dari “Linen” adalah bahan atau kain yang di gunakan di rumah sakit untuk kebutuhan sprei, bantal, guling, selimut, baju petugas, baju pasien dan juga alat instrument steril lainnya.

Linen yang akan di gunakan harus dalam kondisi bersih dan bebas dari kuman penyakit; maka di lakukan pencucian atau di sebut juga Laundry Rumah Sakit yang di dalamnya termasuknya juag proses Sterilisasi. Linen juga harus nyaman di gunakan oleh pasien; maka di lakukan pemeliharaan, perbaiakan atau penggantian.

Aktifitas Manajemen Linen dan Laundry antara lain :

  •  Perencenaan kebutuhan linen dan bahan pencuciannya untuk pelayanan pasien dan pencuciannya untuk pelayanan pasien dan keperluan pakkeperluan pakaaian petugas sesuai dengan tugas ian petugas sesuai dengan tugas dan fungsinyadan fungsinya
  • Perbaikan bahan linen yang rusak
  • Pengaturan distribusi linen dan pekerjaan laundry
  • Pemeliharaan peralatan laundry
  • Pengendalian penggunaan bahan linen.
  • Pengawasan kegiatan di unit linen dan laundry.

Manajemen Linen dan Laundry adalah upaya pengelolaan dan pengawasan terhadap tahapan-tahapan pencucian linen di rumah sakit untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan dan lingkungan hidup yang di timbulkan. Linen merupakan salah satu kebutuhan pasien di rumah sakit yang dapat memberikan dampak kenyamanan dan jaminan kesehatan. Pengelolaan linen yang buruk akan menyebabkan potensi penularan penyakit bagi pasien, staf dan pengguna linen lainnya.

Perlakuan terhadap Liinen di Rumah Sakit :

A. Pengumpulan

  1. Pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius di mulai dari sumber dan memasukkan linen kedalam kantong plastik sesuai jenisnya serta di beri label.
  2. Menghitung dan mencatat linen diruangan.
  3. Di larang melakukan perendaman linen kotor di ruangan sumber.

B. Penerimaan

  1. Mencatat linen yang di terima dan telah di pilah antara infeksius dan non infeksius.
  2. Linen di pilah berdasarkan tingkat kekotorannya.

C. Pencucian

  1. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mensin cuci dan kebutuhan deterjen dan disinfektan.
  2. Membersihkan linen kotor dari tinja, urin, darah dan muntahan dengan menggunakan mesin cuci infeksius.
  3. Mencuci dikelompokan berdasarkan tingkat kekotorannya.
  4. Pengeringan linen dengan mesin pengering (dryer) sehingga didapat hasil pengeringan yang baik.
  5. Penyeterikaan dengan mesin seterika uap, mesin flat ironer sehingga didapat hasil seterikaan yang baik.
  6. Linen bersih harus di tata sesuai jenisnya dan juga sistem stok linen (minimal 4 bagian) dengan sistem first in first out.

D. Distribusi; Di lakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas penerima, kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai kartu tanda terima.

E. Pengangkutan

  1. Kantong untuk membungkus linen bersih harus di bedakan dengan kantong yang di gunakan untuk membungkus linen kotor.
  2. Menggunakan kereta yang berbeda dan juga tertutup antara linen bersih dan juga linen kotor. Untuk kereta linen kotor di desain dengan pintu membuka keatas dan juga untuk linen bersih dengan pintu membuka ke samping, dan pada setiap sudut sambungan permukaan kereta harus di tutup dengan pelapis (siller) yang kuat agar tidak bocor.
  3. Kereta dorong harus di cuci dengan di sinfektan setelah di gunakan mengangkut linen kotor.
  4. Waktu pengangkutan linen bersih dan juga kotor tidak boleh di lakukan bersamaan.
  5. Linen bersih di angkut dengan kereta dorong yang berbeda warna.
  6. Rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri, pengangkutannya dari dan juga ketempat laundry harus menggunakan mobil khusus.

F. APD; Petugas yang bekerja dalam pengelolan laundry linen harus menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, apron, sepatu boot, penutup kepala, selain itu di lakukan pemeriksaaan kesehatan secara berkala, serta harus memperoleh imunisasi hepatitis B setiap 6 (enam) bulan sekali.

G. Pihak Ketiga; untuk rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri, pencuciannya dapat bekerjasama dengan pihak lain dan juga pihak lain tersebut harus memenuhi persyaratan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, serta di lakukan pengawasan penyelenggaraan linen secara rutin oleh pihak rumah sakit.

Pengelolaan Linen dan Laundry di Krakatau Medika telah memenuhi aturan dan regulasi yang berlaku; sesuai dengan surveilance Sertifikasi Akreditasi Rumah Sakit SNARS.

pelatihan pmkp, Pelatihan PMKP 2024, Pelatihan PMKP Adalah, PMKP, PMKP Adalah, pmkp rumah sakit

Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien (PMKP)

Peningkatan Mutu

 

Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) adalah suatu pendekatan yang sistematis dan terencana untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Tujuan PMKP adalah untuk memastikan bahwa pasien menerima asuhan yang aman, efektif, efisien, dan memuaskan. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien merupakan hal yang penting untuk dilakukan di rumah sakit. Hal ini karena rumah sakit merupakan tempat yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, rumah sakit harus memastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada pasien adalah yang terbaik.

Mutu dan keselamatan sejatinya berakar dari pekerjaan sehari-hari dari seluruh staf di unit pelayanan seperti staf klinis melakukan asesmen kebutuhan pasien dan juga memberikan pelayanan. Standar PMKP membantu staf klinis untuk memahami bagaimana melakukan peningkatan nyata dalam memberikan asuhan pasien dan juga menurunkan risiko. Demikian pula staf nonklinis dapat memasukkan standar dalam pekerjaan sehari-hari mereka untuk memahami bagaimana suatu proses dapat lebih efisien, sumber daya dapat di gunakan dengan lebih bijaksana, dan juga risiko fisik dapat di kurangi.

Fokus area standar peningkatan mutu dan juga keselamatan pasien adalah:

  1. Pengelolaan kegiatan peningkatan mutu dan juga keselamatan pasien
  2. Pemilihan, pengumpulan, analisis dan juga validasi data indikator mutu
  3. Pelaporan dan juga analisis insiden keselamatan pasien
  4. Pencapaian dan juga mempertahankan perbaikan
  5. Manajemen risiko

Tujuan Kegiatan PMKP 2024

Adapun Tujuan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) antara lain;

  1. Memperkuat dan meningkatkan secara berkelanjutan budaya mutu dan juga keselamatan pasien
    – Kepatuhan terhadap standar Akreditasi tentang Keselamatan Pasien
    – Kepuasan pelanggan
    – Pencapaian Sasaran Keselamatan Pasien (IPSG)
  2.  Menurunkan angka infeksi
    – Pencegahan dan pengendalian infeksi
  3. Memantau kepatuhan terhadap aturan eksternal
    – Kepatuhan terhadap ILM (Library of Measures)
    – Identifikasi tingkat kesalahan (error)
  4. Meningkatkan sistem pengukuran dan juga pelaporan
    – Pengukuran data indikator mutu yang representatif
    – Kepatuhan pelaporan
    – Validasi data hasil pemantauan indikator klinis

Manfaat PMKP antara lain:

  • Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
  • Meningkatkan keselamatan pasien
  • Meningkatkan kepuasan pasien
  • Meningkatkan efisiensi dan juga efektifitas pelayanan kesehatan
  • Meningkatkan kepercayaan masyarakat

 

Kamar Operasi, Kamar Operasi Adalah, Kamar Operasi Rumah Sakit, Keperawatan Kamar Operasi, Keperawatan Kamar Operasi Adalah, pelatihan kamar operasi, pelatihan keperawatan kamar operasi

Keperawatan Kamar Operasi Di Rumah Sakit

Kamar Operasi

Kamar Operasi adalah ruangan khusus memberikan pelayanan berkualitas kepada pasien saat sebelum, selama, dan juga sesaat sesudah di lakukan tindakan pembedahan.

Adapun jenis-jenis kamar adalah sebagai berikut:

  • Kamar Operasi Bersih adalah ruang yang di gunakan untuk operasi pada daerah tubuh tanpa radang. Operasi di ruangan ini di lakukan tanpa membuka saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, atau saluran billier.
  • Kamar Operasi Bersih Terkontaminasi adalah ruang yang di gunakan untuk operasi dengan membuka saluran pernapasan. Ruangan ini juga dapat di lakukan untuk operasi saluran pencernaan, saluran kemih, saluran bilier, atau saluran reproduksi. Jenis pembedahan lainnya yang dapat di lakukan di ruangan ini seperti operasi sectio caesarea (melahirkan caesar), appendiktomi (usus buntu), jahit luka, atau pembedahan sejenis.
  • Kamar Operasi Tidak Bersih adalah ruang yang di lakukan untuk melakukan pembedahan seperti pada saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, saluran bilier, atau saluran reproduksi dengan pencemaran nyata. Pembedahan yang di lakukan pada ruangan ini misalnya adalah apendiktomi perforasi (bocor) atau pembedahan sejenis lainnya.

Ruang operasi di bagi atas beberapa ruang, antara lain;

  • Ruang Pendaftaran/admisi, Ruang tunggu pengantar
  • Ruang transfer / serah terima pasien
  • Ruang tunggu pasien (holding room)
  • Ruang persiapan pasien
  • Ruang induksi
  • Ruang penyiapan peralatan/instrument bedah
  • Ruang operasi, Ruang pemulihan/recovery room
  • Ruang resusitasi bayi/neonates
  • Ruang ganti pakaian (loker)
  • Ruang istirahat, Scrub station
  • Ruang utilitas kotor ( spoel hoek, disposal )
  • Ruang linen
  • Ruang penyimpanan perlengkapan bedah
  • Ruang penyimpanan peralatan kebersihan (janitor)
  • Dari kebutuhan ruang yang ada

Ruangan-ruangan pada bangunan ruang operasi Rumah Sakit juga di bagi kedalam 5 (lima) zona:

  1. Zona Tingkat Resiko Rendah (Normal)
  2. Zona Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
  3. Zona Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
  4. Zona Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan prefilter, medium filter dan juga hepa filter, Tekanan Positif)
  5. Area Nuklei Steril (Meja Operasi)

Sedangkan Tim yang terlibat dalam operasi :

  • Operator bedah/dokter spesialis bedah
  • Asisten operator
  • Perawat instrument / scrub nurse
  • Perawat sirkuler / circuler nurse
  • Dokter anestesi
  • Perawat anestesi

 

Kamar Operasi

Gizi Buruk, Gizi Buruk Balita, Gizi Buruk Kemenkes, Gizi Rumah Sakit, pelatihan gizi seimbang, Pelatihan Gizi Seimbang Rumah Sakit

Penanganan Gizi Buruk Pada Balita

Gizi Buruk

 

Gizi buruk berbeda dengan stunting di tandai dengan badan anak yang terlalu kurus di bandingkan tinggi badannya. Sedangkan stunting di tandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Jika sebelumnya pengertian secara umum dapat di artikan sebagai kondisi serius. Dimana asupan makan seseorang tidak sesuai dengan nutrisi yang semestinya diperlukan. Maka, gizi kurang sendiri dapat di artikan lebih spesifik sebagai kondisi dimana nutrisi tidak dipenuhi dengan baik.

Penyebab Gizi Buruk

Penyebab utamanya adalah kekurangan asupan makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia anak. Kekurangan asupan ini bisa terjadi karena tidak tersedianya bahan makanan yang berkualitas baik. Selain itu, juga sering disebabkan oleh gangguan penyerapan nutrisi akibat penyakit kronis, misalnya diare kronis atau TBC.

Faktor Risiko Gizi Buruk

Risiko terjadinya pada anak bisa meningkat jika ibu hamil memiliki beberapa kondisi atau faktor berikut :

  1. Hamil di usia remaja
  2. Malnutrisi
  3. Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan narkoba
  4. Terinfeksi HIV, sifilis, dan hepatitis B
  5. Tingkat pendidikan rendah
  6. Kemiskinan

Sedangkan pada anak, beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk adalah :

  1. Terlahir prematur atau berat badan lahir rendah.
  2. Mengalami infeksi kronis atau infeksi berulang.
  3. Berkebutuhan khusus, misalnya cerebral palsy.
  4. Terlahir dengan kelainan bawaan, seperti bibir sumbing, kelainan pada sistem pencernaan, malabsorbsi makanan, atau penyakit jantung bawaan.
  5. Mendapatkan pola asuh yang tidak menunjang tumbuh kembangnya.
  6. Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, tidak mendapat akses untuk air bersih, dan berpolusi.

Gejala Gizi Buruk

Gejala yang menunjukkan anak mengalami gizi buruk adalah :

  1. Tubuh anak tampak sangat kurus
  2. Wajah keriput
  3. Kulit kering
  4. Perut tampak buncit
  5. Sering lemas dan tidak aktif bermain
  6. Gangguan tumbuh kembang
  7. Rambut mudah rontok dan tampak kusam
  8. Pembengkakan (edema) di tungkai

Pemeriksaan Gizi Buruk

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, serta mengukur lingkar kepala dan lingkar lengan atas anak. Selanjutnya, seluruh hasil pengukuran tersebut akan dimasukkan ke dalam kurva pertumbuhan WHO.

Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang meliputi :

  • Tes darah, untuk mendeteksi kadar Hb (hemoglobin) dan gangguan elektrolit yang sering terjadi pada anak dengan gizi buruk.
  • Foto rontgen dada dan tes Mantoux, untuk mendeteksi penyakit tuberkulosis yang sering menimbulkan gizi buruk.

Penanganan Gizi Buruk

Anak dengan gizi buruk perlu menjalani rawat inap di rumah sakit agar dokter dapat menstabilkan kondisi dan tanda-tanda vital anak. Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter :

  1. Menyelimuti anak untuk menjaga suhu tubuhnya.
  2. Memberikan cairan infus untuk mengatasi dehidrasi.
  3. Mengobati infeksi dengan pemberian antibiotik.
  4. Memberikan suplemen, berupa vitamin A, zat besi, dan juga asam folat.
  5. Memberikan vaksin

Selain upaya-upaya di atas, dokter juga dapat memberikan makanan cair khusus berupa F75, F100 atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF), melalui mulut atau selang makan secara perlahan dan juga bertahap. Makanan tersebut berisi susu, mentega, minyak, gula, dan juga kacang, yang di tambahkan dengan vitamin dan mineral.

Komplikasi Gizi Buruk

Gizi buruk yang tidak tertangani bisa menyebabkan komplikasi berupa :

  1. Dehidrasi berat
  2. Hipotermia
  3. Anemia
  4. Gangguan tumbuh kembang
  5. Gangguan otak
  6. Terserang penyakit infeksi berat
  7. Kematian

Pencegahan Gizi Buruk

  1. Memberikan makanan bergizi lengkap dan juga seimbang sesuai kebutuhan anak.
  2. Menerapkan pola asuh yang baik.
  3. Memberikan ASI eksklusif hingga usia anak 6 bulan, di lanjutkan dengan memberikan MPASI yang bergizi lengkap dan juga seimbang.
  4. Mengukur tinggi dan juga berat badan anak secara berkala.
  5. Membawa anak untuk segera berobat bila terkena penyakit infeksi.

 

Gizi Buruk