IUD Pasca Persalinan, IUD Pasca Salin, IUD Pasca Salin Adalah, pelatihan iud dan implant, pelatihan iud pasca salin, Pelatihan IUD Pasca Salin 2024

Intrauterine Device (IUD) Pasca Persalinan

Intrauterine device

 

Intrauterine device (IUD) dapat di pasang dini setelah persalinan ataupun ditunda. IUD merupakan metode kontrasepsi yang sering di rekomendasikan bagi wanita pascapersalinan karena efikasinya yang tinggi dalam mencegah kehamilan. Pada periode postpartum, penundaan pemasangan kontrasepsi sering di temukan. Padahal, pemasangan kontrasepsi setelah melahirkan dapat membantu memanjangkan interval antar kehamilan yang bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Mencegah kehamilan yang tidak di rencanakan dengan menggunakan kontrasepsi akan membantu menghindari beban finansial, psikologi, dan kesehatan yang tidak perlu.

Pembagian Waktu Pemasangan Intrauterine Device (IUD)

Pemasangan intrauterine device (IUD) dapat di lakukan pascapersalinan baik pada pasien yang menjalani persalinan spontan maupun sectio caesarea, juga pada pasien yang menyusui ataupun tidak menyusui. Berdasarkan panduan WHO, waktu pemasangan IUD pascapersalinan terbagi menjadi 4 kelompok yaitu:

  • Insersi dini pascaplasenta, yaitu dilakukan dalam waktu 10 menit pasca ekspulsi plasenta
  • Insersi segera pascapersalinan, yaitu di lakukan dalam waktu lebih dari 10 menit sampai 48 jam pascapersalinan
  • Insersi tunda pascapersalinan, yaitu di lakukan dalam waktu lebih dari 48 jam sampai 4 minggu pascapersalinan
  • Insersi interval pascapersalinan, yaitu di lakukan dalam waktu lebih dari 4 minggu pascapersalinan[2–4,17]

Peralatan

Peralatan yang di perlukan untuk pemasangan IUD antara lain:

  1. Satu set IUD steril: umumnya berbentuk T dengan panjang 30-36 mm dan lebar 28-32 mm (ukuran yang lebih kecil di indikasikan untuk nulipara dan remaja/wanita muda)
  2. Spekulum cocor bebek
  3. Gunting panjang
  4. Sonde uterus.
  5. Tenakulum satu gigi
  6. Tampon tang
  7. Sarung tangan steril
  8. Kasa steril
  9. Cairan antiseptik povidone iodine
  10. Larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi alat-alat logam
  11. Lampu sorot ginekologi

Prosedural

Langkah-langkah pemasangan IUD yaitu:

  1. Informed consent: dalam informed consent, pasien perlu dijelaskan secara singkat mengenai prosedur yang akan dijalani dan ketidaknyamanan atau nyeri yang mungkin akan dirasakan saat pemasangan
  2. Pastikan ruangan dengan penerangan cukup dan privasi pasien tetap terjaga. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan tangan dengan kain bersih. Kemudian, pakai sarung tangan steril
  3. Siapkan IUD dan susun alat-alat di atas tempat steril
  4. Anjurkan pasien untuk kencing dan membersihkan alat kelamin. Kemudian, atur posisi pasien litotomi
  5. Nyalakan lampu sorot untuk melihat serviks
  6. Gunakan spekulum untuk visualisasi serviks
  7. Bersihkan atau usap vagina dan serviks dengan kasa steril yang di beri larutan antiseptik
  8. Jepit serviks dengan tenakulum dengan hati-hati
  9. Masukkan sonde uterus secara hati-hati ke dalam uterus (sekali masuk) tanpa menyentuh dinding vagina atau spekulum. Tentukan kedalaman uterus dan posisi uterus
  10. Keluarkan sonde dan ukur kedalaman uterus pada tabung inserter yang masih berada dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru tabung inserter, kemudian buka seluruh plastik penutup kemasan
  11. Pegang tabung inserter dengan leher biru dalam posisi horisontal (sejajar lengan IUD). Lakukan tarikan hati-hati pada tenakulum, masukkan inserter sampai leher biru menyentuh serviks atau sampai terasa ada tahanan
  12. Lepaskan lengan IUD dengan menarik keluar tabung inserter dengan tetap menahan pendorong
  13. Keluarkan pendorong IUD dan tabung inserter di dorong kembali ke serviks secara hati-hati sampai batas leher biru
  14. Keluarkan sebagian benang IUD kurang lebih 3-4 cm dari tabung inserter kemudian di gunting
  15. Keluarkan seluruh tabung inserter
  16. Lepaskan tenakulum dengan hati-hati, pastikan tidak ada perdarahan pada tempat bekas penjepitan tenakulum. Jika ada perdarahan, tekan dengan kasa steril yang di beri povidone iodine selama 30-60 detik
  17. Keluarkan spekulum dengan hati-hati
  18. Rendam tenakulum dan spekulum yang sudah di pakai dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit untuk tindakan dekontaminasi
  19. Buang bahan-bahan yang sudah tidak di pakai lagi (kasa, sarung tangan) ke tempat sampah terkontaminasi
  20. Cuci tangan dengan air mengalir memakai sabun dan keringkan
  21. Evaluasi selama 15 menit dan pastikan pasien tidak mengalami kram hebat
  22. Lengkapi rekam medik pasien dan berikan kartu IUD kepada pasien
Gerontik, Gerontik Adalah, Gerontik Lansia, Pelatihan gerontik, Pelatihan Gerontik 2024

Manajemen Perawat Lanjut Usia Atau Gerontik

Manajemen Perawat Lanjut Usia Atau Gerontik

 

Keperawatan Gerontik adalah suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu dan juga kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosial-spiritual dan juga kultural yang holistik yang di tujukan pada klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan juga masyarakat.

Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada kelompok yang di kategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut aging process. (Cunningham dan Brookbank, 1988).

Batasan – Batasan Lansia

Depkes RI membagi lansia sebagai berikut:

1. Menjelang Usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas
2. Usia Lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium
3. Usia Lanjut (65 tahun <) sebagai masa senium

Sedangkan WHO Lansia dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

1. Usia Lanjut: 60-70 tahun
2. Usia Tua: 75-89 tahun
3. Usia sangat lanjut > 90 tahun

Asuhan keperawatan Gerontik pada lansia bertujuan agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, dengan promotif, preventif dan juga rehabilitatif sehingga lansia memiliki rasa ketenangan dalam hidup dan juga rasa produktif sampai akhir hayatnya. Asuhan keperawatan di tujukan pada aspek bio-psiko-sosial-kultural dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan juga evaluasi.

Adapun asuhan keperawatan dasar yang di berikan di sesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:

1. Untuk lanjut usia aktif
Asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hyang iene, kebersihan gigi dan juga mulut atau gigi palsu. Kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga,
kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan serta makanan yang sesuai.

2. Untuk lanjut usia pasif
Asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif (tergantung pada orang lain) pada dasarnya sama dengan lanjut usia aktif dengan bantuan
anggota keluarga maupun tenaga puskesmas. Fokus asuhan keperawatan pada lansia di tekankan pada:

  • Peningkatan kesehatan (health promotion)
  • Pencegahan penyakit (preventif)
  • Mengoptimalkan fungsi mental
  • Mengatasi gangguan kesehatan yang umum
implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi dasar, Pelatihan Implementasi Desinfeksi Dan Sterilisasi Rumah Sakit, Pelatihan PPI, Pelatihan PPI 2024, Pelatihan PPI Adalah, pelatihan ppi dasar, Pelatihan PPI Dasar 2024

Impelmentasi Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)

Pencegahan dan Pengendalian

 

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya di singkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan. Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections) yang selanjutnya di singkat HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di mana ketika masuk tidak ada infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Tujuan pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

  • Untuk memutus rantai infeksi sehingga dapat meminimalkan insiden HAIs pada fasyankes. PPI wajib di laksanakan oleh seluruh individu baik pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat pada fasyankes. Seperti melakukan kebersihan tangan, pemakaian Alat Pelindung Diri dengan benar, pengendalian lingkungan, penanganan limbah dengan benar dan lain-lain.

Indikator Mutu PPI

  • Surveilans HaIs. VAP. ISK. IDO. Phlebitis. Dekubitus.
  • Kepatuhan Kebersihan Tangan.
  • Kepatuhan penggunaan APD.
  • Kegiatan pencatatan dan pelaporan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit.

Untuk menurunkan atau meminimalkan insiden rate HAIs ini maka di buatlah suatu kebijakan dari Kemenkes bahwa setiap Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya harus melaksanakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Namun sangat di sayangkan saat ini masih banyak pihak manajemen Rumah Sakit yang kurang peduli dengan masalah ini. Sehingga pelaksanaan PPI hanya karena kebutuhan adanya akreditasi. Yang seharusnya merupakan suatu standar yang harus di laksanakan oleh Rumah Sakit dan Fasyankes lainnya

Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya memiliki peran untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang meliputi preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Pelayanan kesehatan yang diberikan harus bermutu, bertanggung jawab dan transparan, untuk keamanan pasien (patient safety) Salah satu goals dari Patient safety adalah menurunkan insiden rate infeksi terkait pelayanan kesehatan yang saat ini dikenal sebagai HAIs (Healtcare Associetd Infections).

HAIs dapat meningkatkan hari rawat yang lama, sehingga meningkatkan biaya, produktifitas pasien maupun Rumah Sakit akan menurun. Dan dapat menimbulkan kematian atau kecacatan bahkan dapat timbul tuntutan hukum, mutu dan citra pelayanan Kesehatan akan menurun. Banyak faktor penyebab terjadinya infeksi terkait pelayanan kesehatan antara lain, kurangnya pengetahuan, kurangnya fasilitas, kepatuhan terhadap standar prosedural buruk, kondisi pasien yang sangat kompleks, kurang kepeduliaan dari tenaga kesehatan.

 

 

Pencegahan dan Pengendalian

service excellence rumah sakit, Service Excellent, Service Excellent Adalah, service excellent dalam penyelenggaraan kesehatan, Service Excellent Rumah Sakit, service excellent training

Service Excellent & Handling Customer Complaint di Rumah Sakit

Service Excellent & Handling Customer Complaint

 

 

Service excellent di sebut Seni menciptakan nilai bagi orang lain ialah bagaimana menciptakan kesan yang baik, yang selalu di ingat orang lain terhadap diri kita,  Excellent adalah sesuatu yang di berikan mempunyai kualitas tinggi dan juga melebihi apa yang di harapkan oleh pelanggan., maka pengertian excellent service atau pelayanan prima adalah suatu pelayanan yang terbaik dan juga memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan bahkan lebih.

Dalam hal ini,  Service excellent bukanlah pelayanan yang mewah, sebaliknya definisi konsep ini justru sederhana, yaitu secara konsisten memberikan pelayanan yang sesuai bahkan melebihi ekspektasi pengguna layanan. Pasien atau keluarga pasien berhak mengajukan komplain dan juga keluhan apabila mereka merasa pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut terdapat kekeliruan dan ketidakpuasan. Biasanya komplain akan segera di ungkapkan pasien secara langsung melalui tenaga medis yang bertugas saat itu. Padahal masyarakat perlu mengetahui bagaimana SOP dan juga alur penanganan komplain di rumah sakit agar mereka gak asal mengeluhkan pelayanan kepada semua tenaga medis yang bergantian jam bertugasnya.

Cara Mengatasi Komplain Pasien di Rumah Sakit

SOP penanganan komplain di rumah sakit penting untuk di buat setiap rumah sakit dengan tujuan agar manajemen rumah sakit mengetahui kekurangan sistem operasional rumah sakit saat ini dan juga mendengar langsung persoalan yang sering di alami pasien dan juga keluarganya sehingga Anda bisa segera memperbaikinya.

Berdasarkan Keputusan Ketua Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia Nomor HK.02.04/III.8/066/2016 tentang Tata Cara Penanganan Pengaduan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi menyebutkan 8 prinsip penerimaan dan penanganan pengaduan di rumah sakit.

1. Objektivitas
2. Koordinasi
3. Efektivitas dan Efisiensi
4. Akuntabilitas
5. Kerahasiaan
6. Transparan
7. Asas Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence)
8. Proses Pemeriksaan dan juga Penyelidikan Dilengkapi dengan Dokumen Tertulis

Pentingnya Sistem Manajemen Komplain pada Rumah Sakit

Komplain yang di ajukan pasien umumnya berkaitan tentang kepuasan mereka terhadap pelayanan rumah sakit. Adapun contoh kasus komplain pasien di rumah sakit, sebagai berikut:

  • Ketidakpuasan terhadap fasilitas rumah sakit.
  • Tenaga medis kurang memperhatikan kondisi kesehatan pasien, misalnya suster yang lupa memberi tahu perkembangan pasien kepada dokter ataupun sebaliknya.
  • Pasien diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dalam kondisi masih sakit.
  • Rumah sakit membocorkan data kerahasiaan pasien.
  • Ruma sakit tidak meminta informed consent pasien.
  • Pasien merasa diperlakukan tidak wajar dan juga perlakuan kurang sopan.

 

 

Service excellent

 

Pelatihan perencanaan sdm rumah sakit, Perencanaan SDM, Perencanaan SDM Adalah, perencanaan sdm rumah sakit, Sistem Perencanaan SDM

Sistem Perencanaan SDM di Rumah Sakit

Perencanaan SDM

 

Perencanaan SDM adalah proses sistematis dan juga berkelanjutan untuk menganalisis kebutuhan organisasi terhadap SDM dalam situasi yang selalu berubah serta mengembangkan kebijakan personalia yang sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi.

Proses perencanaan SDM

Secara mendasar, proses perencanaan sumber daya manusia melibatkan tiga poin utama, yaitu:

1) Proses pembentukan data rekapitulasi
Pada tahap ini, perusahaan membentuk data administrasi yang ada untuk melakukan analisis dan juga simulasi. Tujuannya, mendapatkan gambaran tentang kekuatan SDM saat ini, termasuk ketersediaan dan juga kompetensi karyawan.

2) Proses pengadaan SDM
Tahap kedua melibatkan pengumpulan informasi terkait calon karyawan potensial serta penilaian dan juga penerapan kriteria tertentu untuk proses rekrutmen.

3) Proses alokasi SDM
Pada terkahir, data administrasi di gunakan untuk menganalisis dan juga menentukan penempatan karyawan agar lebih tepat. Penempatan akan di sesuaikan dengan kompetensi dan/atau kebutuhan perusahaan.

Dengan menjalankan ketiganya, perencanaan SDM dapat di lakukan dengan lebih terstruktur dan juga terarah, membantu perusahaan dalam mengelola kekuatan manusia, serta mengidentifikasi kebutuhan dan penempatan yang optimal.

Sistem perencanaan SDM

Sistem perencanaan SDM di rumah sakit merupakan suatu pendekatan yang penting untuk memastikan bahwa rumah sakit memiliki jumlah, kualitas, dan SDM profesional yang memadai.

Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam sistem perencanaan SDM di rumah sakit antara lain:

1) Penyusunan Pedoman
Kementerian kesehatan menetapkan pedoman penyusunan perencanaan sumber daya manusia kesehatan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta rumah sakit.

2) Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan tenaga kerja dengan menggunakan metode seperti workload indicators of staffing need (WISN) untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang di perlukan berdasarkan beban kerja yang ada.

3) Pengelolaan Data
Pencatatan data menjadi bagian dari dokumentasi data pada sistem informasi manajemen rumah sakit.

4) Peraturan dan Tata Tertib Kerja
Rumah sakit perlu membuat kebijakan tentang sistem kepegawaian, peraturan, dan tata tertib kerja.

5) Pendidikan dan Pelatihan
Menyediakan pendidikan dan pelatihan kepada SDM rumah sakit berguna untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk menjalankan tugas dan fungsi kerja.

Sistem perencanaan SDM di rumah sakit bertujuan untuk memastikan bahwa rumah sakit memiliki SDM berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.

 

asesor internal, Asesor Internal Rumah Sakit, asesor internal snars, Pelatihan Asesor Internal Rs, Pelatihan Asesor Internal Rumah Sakit

Asesor Internal Di Rumah Sakit

asesor internal

 

Asesor merupakan orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian. Sedangkan asesor internal merupakan seseorang yang memiliki kemampuan untuk memahami prosedur pelaksanaan assessment. Biasanya asesor ini berperan untuk melakukan evaluasi kualitas pelayanan serta keselamatan pasien, serta melakukan self assessment. Biasanya para asesor ini akan melakukan tugasnya saat sedang mempersiapkan survei hingga setelah survey di lakukan. Proses survei ini juga harus di lakukan dengan benar, misalnya seorang asesor rumah sakit harus mencari bukti mengenai mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Selain itu juga sistem yang mendukung pelayanan dan keselamatan pasien, serta memantau kepatuhan para staf.

Jika Anda ingin menjadi seorang asesor  maka Anda bisa mendatar melalui lembaga LSP yang sudah terdaftar BNSP. Anda bisa memilih bidang asesor yang di minati misalnya teknologi, rumah sakit atau tata boga. Biasanya untuk masa berlaku seorang asesor ini hanya dalam jangka waktu 3 tahun saja, dan bisa di terbitkan kembali jika permohonan memenuhi syarat. Perpanjangan ini juga berdasarkan kemampuan seorang asesor untuk melakukan assessment.

Kemampuan Yang Harus Di miliki Seorang Asesor

Syarat yang harus di penuhi untuk menjadi seorang asesor, salah satunya pendidikan minimal D1. Selain itu asesor juga harus memahami persyaratan dan prosedur dalam lisensi, sertifikasi lembaga dan sertifikasi tempat uji. Biasanya asesor internal ini di bagi kedalam beberapa tugas misalnya seperti medis, manajemen dan keperawatan. Ada beberapa Keuntungan yang bisa di dapatkan saat menjadi seorang asesor seperti memiliki kewenangan untuk menilai kinerja pada pihak yang di uji.

Dengan melakukan penilaian ini maka seorang asesor akan mendapat fee dari LSP karena jasanya yang telah melakukan assessment. Anda juga akan mendapat banyak teman dan relasi saat menjadi seorang asesor internal, saat menjadi seorang asesor Anda harus bisa berkomunikasi dengan baik. Meskipun begitu seorang asesor juga harus memiliki beberapa kemampuan untuk bisa menilai pihak yang di uji, karena penilaian tidak bisa di lakukan sembarangan. Nah berikut ini beberapa kemampuan yang harus di miliki seorang asesor.

  • Kemampuan Melakukan Asesmen
    Skill pertama yang harus di miliki seorang asesor adalah kemampuan untuk melakukan asesmen atau pengujian. Kemampuan ini meliputi asesmen, kode etik, proses serta hasil dari asesmen yang di lakukan.
  • Kemampuan Teknis
    Berikutnya, yang harus di miliki oleh seorang asesor adalah kemampuan dalam menguasai teknis asesmen. Seorang asesor harus bisa menguasai materi asesmen, kemampuan ini harus sesuai dengan yang akan diasesmen. Misalnya seorang asesor internal harus menguasai hal-hal mengenai rumah sakit yang akan di asesmen, mulai dari teknis hingga informasi lainnya. Misalnya seperti menguji sistem pelayanan rumah sakit dengan tujuan mencari informasi mutu pelayanan rumah sakit tersebut
Hypnobirthing, Hypnobirthing Adalah, Hypnobirthing Pada Ibu Hamil, Hypnobirthing Persalinan, pelatihan hypnobirthing, Pelatihan Hypnobirthing Persalinan

Hypnobirthing Persalinan Pada Ibu Hamil

Hypnobirthing

 

Hypnobirthing merupakan sebuah metode yang menggunakan self-hypnosis atau hipnotis diri sendiri serta teknik relaksasi yang berguna untuk membantu ibu mengurangi rasa cemas dan takut saat menghadapi persalinan. Hypnobirthing merupakan perkembangan dari hypnosis yang digunakan untuk mengobati diri sendiri akan trauma atau phobia yang sifatnya ringan.

Dalam hal ini, Hypnobirthing dapat membantu ibu hamil dalam mengatasi ketakutan dan sehingga mengurangi rasa sakit saat bersalin. Ibu juga akan lebih rileks dan nyaman saat melahirkan. Tubuh manusia memiliki sistem yang luar biasa. Ketika tenang, tubuh mengeluarkan hormon endorfin yang dapat mengatasi rasa sakit dan nyeri. Sebaliknya, ketika cemas, hormon kortisol yang keluar dan mampu menghalangi hormon endorfin untuk mengatasi nyeri. Inilah yang membuat persalinan semakin sakit saat Ibu tidak dalam keadaan rileks.

Peran hypnobirthing di sini adalah mengatasi ketakutan dan kecemasan tersebut. Ibu hamil membutuhkan pendampingan fasilitator di awal pada saat menerapkan hypnobirthing Sebaiknya pasangan juga mempelajari metode karena pasangan umumnya akan menemani ibu hamil pada saat proses persalinan.

Cara Kerja Hypnobirthing

Hypnobirthing bekerja dengan berdasar pada kekuatan sugesti. Metode ini dapat memanfaatkan musik, video, serta kata-kata yang positif untuk mengarahkan pikiran, merilekskan tubuh, serta mengendalikan nafas ketika proses persalinan terjadi. Musik yang di putar dapat berupa kicauan burung, suara alam, gemericik air, atau kalimat positif yang menenangkan.

Proses hypnosis pada hypnobirthing dapat di lakukan sendiri, bersama dengan pasangan, atau dengan pendampingan fasilitator. Jika ibu hamil dan pasangan ingin melakukan hypnobirthing sendiri, maka dapat mengikuti pelatihan atau kelas khusus hypnobirthing. Di kelas tersebut, calon ibu dan pasangan akan di ajarkan bagaimana teknik yang benar saat bersalin, posisi tubuh, relaksasi, self-hypnosis, serta teknik bernapas. Biasanya kelas tersebut sudah dapat di ikuti ketika usia kandungan ibu mencapai 32 bulan.

Tahapan Hypnobirthing

Ada beberapa tahapan yang perlu di lakukan oleh Ibu saat melakukan hypnobirthing. Beberapa tahapan tersebut meliputi:

  1. Pastikan Kondisi Ruangan Tenang
    Sebelum memulai hypnobirthing, perlu di pastikan bahwa kondisi ruangan tenang. Alunan musik serta aromaterapi yang menenangkan juga di sarankan untuk membuat ibu hamil merasa tenang. Kondisi ruangan yang tenang serta nyaman sangat mendukung keberhasilan hypnobirthing.
  2. Relaksasi Otot
    Setelah memastikan kondisi ruangan, langkah pertama yang di lakukan adalah relaksasi otot. Relaksasi otot di awali dengan peregangan otot kaki, otot tangan, hingga leher. Kemudian hembuskan nafas perlahan dan buang pikiran negatif yang mengganggu. Pada saat relaksasi, usahakan untuk fokus dan benar-benar rileks. Kenyamanan Ibu saat melakukan tahapan ini sangat berpengaruh pada keberhasilan.
  3. Fokus pada Satu Titik
    Jika tahapan relaksasi sudah di lakukan, tahapan selanjutnya adalah fokus pada satu titik. Arahkan mata ke satu titik sampai benar-benar fokus, mengantuk, dan akhirnya ingin memejamkan mata.
  4. Sugesti
    Pada saat mata terpejam, fasilitator akan mulai menanamkan sugesti positif mengenai proses persalinan. Kata-kata positif akan sangat mudah masuk ke alam bawah sadar saat proses ini berlangsung. Tugas Ibu hanyalah mendengarkan sugesti dari fasilitator dengan fokus untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Umumnya fasilitator hanya akan memberikan terapi sebanyak 3 kali. Selanjutnya Ibu perlu melatihnya sendiri di rumah. Justru proses latihan di rumah ini yang paling penting di lakukan supaya ketika saatnya nanti, Ibu dapat mempraktekkannya dengan baik. Karena jika tidak di latih, terapi hypnobirthing tidak akan membawa banyak pengaruh.

Ibu juga perlu rileks dan nyaman saat melakukan terapi ini untuk menghilangkan memori tidak baik mengenai persalinan yang menakutkan. Hypnobirthing merupakan seni berkomunikasi dengan alam bawah sadar yang diharapkan mampu menumbuhkan pikiran positif ibu hamil.

Manfaat dari Hypnobirthing

Penggunaan metode ini untuk persalinan tentu bukan tanpa tujuan. Ibu bisa merasakan banyak manfaat saat hypnobirthing diterapkan. Kecemasan dan ketakutan yang selama ini mengganggu dapat dihilangkan dan hal ini akan membuat perasaan Ibu lebih lega. Janin di dalam kandungan juga dapat merasakan perasaan nyaman dan rileks sehingga proses persalinan lebih mudah.

Beberapa manfaat yang dapat Ibu petik saat menggunakan metode hypnobirthing untuk persalinan antara lain:

  1. Memberikan perasaan nyaman, rileks, tenang, dan positif pada saat persalinan.
  2. Menghilangkan kecemasan dan ketakutan akan proses persalinan.
  3. Manajemen stres saat persalinan terkendali.
  4. Memastikan Ibu tetap terjaga dan waspada selama bersalin.
  5. Proses persalinan lebih cepat, sehingga meminimalisir penggunaan obat penghilang rasa sakit.
  6. Mengurangi rasa sakit saat bersalin.
  7. Ibu tidak perlu tinggal lama di rumah sakit setelah melahirkan.
  8. Menghilangkan trauma akan persalinan yang selama ini kerap menjadi momok.
  9. Mengurangi resiko stres pasca melahirkan.

 

Hypnobirthing

Keperawatan Kamar Operasi, Keperawatan Kamar Operasi Adalah, pelatihan kamar operasi, pelatihan keperawatan kamar operasi

Asuhan Keperawatan Kamar Operasi di Rumah Sakit

Kamar Oprasi

 

Pelaksanaan pelayanan keperawatan kamar operasi merupakan pelayanan keperawatan pasien yang menjalani prosedur pembedahan baik sebelum (pre), selama (intra) dan juga setelah (post) pembedahan secara terkoordinasi dan juga berkesinambungan.

Adapun jenis-jenis kamar operasi:

  • Kamar Operasi Bersih adalah ruang yang di gunakan untuk operasi pada daerah tubuh tanpa radang. Operasi di ruangan ini di lakukan tanpa membuka saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan juga saluran kemih, atau saluran billier.
  • Kamar Operasi Bersih Terkontaminasi adalah ruang yang di gunakan untuk operasi dengan membuka saluran pernapasan. Ruangan ini juga dapat di lakukan untuk operasi saluran pencernaan, saluran kemih, saluran bilier, atau saluran reproduksi. Jenis pembedahan lainnya yang dapat di lakukan di ruangan ini seperti operasi sectio caesarea (melahirkan caesar), appendiktomi (usus buntu), jahit luka, atau pembedahan sejenis.
  • Kamar Operasi Tidak Bersih adalah ruang yang di lakukan untuk melakukan pembedahan seperti pada saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, saluran bilier, atau saluran reproduksi dengan pencemaran nyata. Pembedahan yang di lakukan pada ruangan ini misalnya adalah apendiktomi perforasi (bocor) atau pembedahan sejenis lainnya.

Ruang operasi di bagi atas beberapa ruang, antara lain;

  • Ruang Pendaftaran/admisi, Ruang tunggu pengantar
  • Ruang transfer / serah terima pasien
  • Ruang tunggu pasien (holding room)
  • Ruang persiapan pasien
  • Ruang induksi
  • Ruang penyiapan peralatan/instrument bedah
  • Ruang operasi, Ruang pemulihan/recovery room
  • Ruang resusitasi bayi/neonates
  • Ruang ganti pakaian (loker)
  • Ruang istirahat, Scrub station
  • Ruang utilitas kotor ( spoel hoek, disposal )
  • Ruang linen
  • Ruang penyimpanan perlengkapan bedah
  • Ruang penyimpanan peralatan kebersihan (janitor)
  • Dari kebutuhan ruang yang ada

Ruangan-ruangan pada bangunan ruang operasi Rumah Sakit juga dibagi kedalam 5 (lima) zona:

  1. Zona Tingkat Resiko Rendah (Normal)
  2. Zona Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
  3. Zona Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
  4. Zona Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan prefilter, medium filter dan juga hepa filter, Tekanan Positif)
  5. Area Nuklei Steril (Meja Operasi)

Sedangkan Tim yang terlibat dalam operasi :

  • Operator bedah/dokter spesialis bedah
  • Asisten operator
  • Perawat instrument / scrub nurse
  • Perawat sirkuler / circuler nurse
  • Dokter anestesi
  • Perawat anestesi

 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), pelatihan k3 rs, Pelatihan k3 rs 2024, Pelatihan K3 RS Adalah, pelatihan k3 rumah sakit

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Rumah Sakit

Keselamatan dan Kesehatan

 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan Kesehatan bagi sumber daya manusia rumah sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan rumah sakit melalui upaya pencegahan kecelakan kerja dan penyakit akibat kerja di rumah sakit.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit yang selanjutnya di sebut SMK3 Rumah Sakit adalah bagian dari manajemen Rumah Sakit secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan aktifitas proses kerja di Rumah Sakit guna terciptanya lingkungan kerja yang sehat, selamat, aman dan nyaman bagi sumber daya manusia Rumah Sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan Rumah Sakit.

Tujuan K3 RS adalah agar tercapainya suatu kondisi kerja dan lingkungan kerja RS. Yang memenuhi persyaratan K3, dan untuk melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan pekerjaan.

Pentingnya K3 Rumah Sakit

Dan bagi Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut tidak di berikan izin operasional Rumah Sakit (pasal 17). Dengan demikian penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit yang baik. Akan memberikan nilai tambah bagi rumah sakit karena sarana dan prasarana sesuai dengan standar, tetap terpelihara, terpantau dan di gunakan sesuai dengan standar yang memenuhi persyaratan yang telah di tetapkan sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku.

Rumah Sakit yang menerapkan K3 akan dapat memebrikan rasa aman bagi pasien, keluarga pasien, pengunjung, tenaga kesehatan, vendor, dan semua pihak yang terlibat. Di dalam kegiatan rumah sakit, baik langsung mauoun tidak langsung. Hal ini akan mempengaruhi mutu layanan dan memberikan kepuasan terhadap semua pihak. Sehingga manfaatnya akan kembali kepada pihak rumah sakit tersebut.

Ruang lingkup K3 di Rumah Sakit

  • Sarana higene yang memantau pengaruh lingkungan kerja terhadap tenaga kerja antara lain pencahayaan, bising, suhu / iklim kerja.
  • Sarana Keselamatan Kerja yang meliputi pengamanan pada peralatan kerja, pemakaian alat pelindung diri dan tanda/rambu-rambu peringatan dan alat pemadam kebakaran.
  • Sarana Kesehatan Kerja yang meliputi pemeriksaan awal, berkala dan khusus, gizi kerja, kebersihan diri dan lingkungan.
  • Ergonomi yaitu kesehatan antara alat kerja dengan tenaga kerja

 

Keselamatan dan Kesehatan

 

 

Manajemen Laboratorium, Manajemen Laboratorium Adalah, manajemen laboratorium rumah sakit, pelatihan manajemen laboratorium, pelatihan manajemen laboratorium rumah sakit

Manajemen Laboratorium di Rumah Sakit

Manajemen Laboratorium

 

Manajemen laboratorium adalah prosedur sistematik untuk mengumpulkan, menyimpan, mengolah dan juga mengambil data yang di butuhkan oleh laboratorium. Sebagai hal penting bagi rumah sakit pengelolaan laboratorium perlu di perhatikan. Menjalankan operasional laboratorium harus memperhatikan kualitas pelayanan. Dengan begitu, suatu pelayanan laboratorium bisa mencapai sasaran.

Seperti apa manajemen laboratorium yang baik ?

Setiap rumah sakit pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan pelayanan pasien. Sebuah laboratorium dapat di kelola dengan baik bila berkaitan satu dengan lainnya. suatu manajemen laboratorium yang baik pasti memiliki sistem operasi yang baik, job description yang jelas, administrasi dan juga masih banyak lagi. Tidak hanya untuk pasien saja, manajemen laboratorium juga sangat bermanfaat untuk petugas. Fasilitas yang di berikan harus sesuai dengan standar umum. Dengan begitu, petugas dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Supaya pengelolaan manajemen laboratorium dapat berjalan optimal, anda perlu memperhatikan perangkat manajemen laboratorium diantaranya :

  • Tata ruang laboratorium
    Laboratorium rumah sakit harus di tata sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik. karena tata ruang merupakan pusat aktivitas dalam laboratorium
  • Infrastruktur
    Infrastruktur laboratorium terdapat 2 hal penting. Pertama, sarana utama yakni lokasi laboratorium, konstruksi bangunan, tempat penyimpanan dan juga lain-lain. Kedua yaitu sarana pendukung seperti alat komunikasi, alat keselamatan kerja dan juga masih banyak lagi.
  • Alat yang berkualitas dan modern
    Setiap alat yang akan di operasikan harus dalam kondisi siap pakai. Teknologi alat juga perlu di sediakan yang terbaru dan juga lebih canggih
  • Administrasi laboratorium
    Administrasi ini meliputi segala kegiatan administrasi laboratorium seperti daftar-daftar kebutuhan laboratorium yang diperlukan.
  • Fasilitas pendanaan
    Tanpa adanya pendanaan yang cukup, proses kegiatan laboratorium tidak akan berjalan baik / mungkin tidak akan beroperasi. tentu, ini sangat mempengaruhi ketidaknyaman pasien

Lalu untuk sasaran program di dalam upaya guna meningkatkan mutu pelayanan laboratorium di rumah sakit adalah:

  • Meningkatkan kualitas laboratorium dengan pemilihan indikator yang baik
  • Meningkatkan moral di dalam kehidupan karyawan laboratorium
  • Menjamin keakuratan hasil pemeriksaan di laboratorium
  • Meningkatkan kepuasan dari pasien
  • Meningkatkan efisiensi dan juga efektivitas pelayanan laboratorium
  • Efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki

 

Manajemen Laboratorium