Pelatihan CTU 2024, Pelatihan CTU Adalah, Pelatihan CTU Bidan, Pelatihan CTU Bidan 2024, Pelatihan CTU Bidan Adalah

Pelatihan CTU – Pelatihan CTU Adalah – Pelatihan CTU 2024 – Pelatihan CTU Bidan – Pelatihan CTU Bidan 2024

 

CTU (CONTRACEPTIVE TECHNOLOGY UPDATE) BIDAN”

 

Pelatihan CTU (Contraception Technology Update) bagi Tenaga Kesehatan adalah untuk mempersiapkan peserta agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan perilaku. Sebagaimana yang menjadi tujuan pelatihan berbasis kompetensi ini sehingga mampu berkontribusi penuh pada pelayanan KB di masyarakat.

Semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki keluarga yang terencana mengakibatkan penggunaan alat kontrasepsi semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perlunya tenaga medis untuk dapat melayani berbagai jenis metode kontrasepsi yang paling cocok dengan kondisi masing-masing peserta KB. Metode kontrasepsi seperti IUD (intrauterine device) dan KB Implan memerlukan kompetensi khusus dalam pemasangan maupun pencabutannya. Sehingga selain memerlukan pengetahuan (kognitif) perlu pula kemampuan (skill) yang khusus.

Oleh sebab itu dibutuhkan pelatihan bagi para tenaga medis yang bersifat langsung pada pasien (hands-on) sehingga peserta pelatihan mampu melakukannya secara mandiri setelah mengikuti pelatihan CTU ini.

Dalam pelatihan CTU bidan di tuntut menguasai tehnik dalam pemasangan dan pencabutan IUD, mempunyai kompetensi yang tinggi dan bermanfaat untuk orang lain. Kompetensi bidan terscbut di peroleh dari perpaduan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang di refleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak

Tujuan pelatihan CTU Bidan

  • Untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan para bidan dalam memberikan pelayanan KB, berupa pemasangan alat kontrasepsi IUD dan implan

Program KB di lakukan dengan penggunaan jenis alat kontrapsepsi untuk Pasangan Usian Subur (PUS). Pemerintah saat ini mulai gencar menggalakan program KB dengan sasaran Psangan Usia Subur (PUS) pda usia 15 – 49 tahun. Kelompok Usia perempuan subur ini merupakan peluang perempuan untuk bisa hamil dan melahirkan anak.

Pengetahuan mengenai alat/cara KB merupakan hal yang penting di miliki sebagai bahan pertimbangan sebelum menggunakannya. Informasi mengenai pengetahuan dan pemakaina alat/cara KB perlu untuk mengukur keberhasilan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) (BKKBN,2018). Informasi yang telah terkumpul mengcangkup alat/cara KB modern dan tradisional. Alat/cara KB modern terdiri dari metode operasi wanita (MOW) atau sterilisasi wanita, metode operasi pria (MOP) atau sterilisasi pria, pil, IUD, suntik KB, susuk KB, kondom, diafragma, metode amenore laktasi (MAL), dan kontrasepsi darurat alat/cara KB tradisional terdiri dari gelang manik, pantang berkala, senggama terputus, dan alat/cara KB tradisional lainnya.

 

Alur Pelayanan CSSD, Pelatiahn CSSD, Pelatihan CSSD 2024, Pelatihan CSSD Adalah, Pelayanan CSSD

Pelatiahn CSSD – Pelatihan CSSD Adalah – Pelatihan CSSD 2024 – Pelayanan CSSD – Alur Pelayanan CSSD

“CSSD (CENTRAL STERILE SUPPLY DEPARTEMENT)”

CSSD – Central Sterile Supply Departement – Pada hakikatnya, setiap manusia selalu dan juga harus terus belajar untuk mempertahankan hidupnya. Dengan hal ini belajar dapat menghasilkan perubahan pada diri individu, yaitu didapatkannya kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. Salah satu bentuknya melalui pendidikan dan juga pelatihan. Sebagai farmasi, salah satunya mempunyai tugas danjuga peran penting dalam upaya menekan terjadinya infeksi di Rumah Sakit. Oleh karenanya, sebagai calon farmasis yang berminat pada bidang ilmu perumahsakitan, perlu menambah ilmu dan juga keterampilan dalam bidang pelayanan CSSD. Rumah Sakit sebagai institusi penyedia pelayanan kesehatan, berupaya untuk mencegah resiko terjadinya infeksi bagi pasien dan juga petugas Rumah Sakit. Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan Rumah Sakit adalah rendahnya angka infeksi nosokomial di Rumah Sakit. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, perlu di lakukan pengendalian infeksi di Rumah Sakit.

CSSD – Central Sterile Supply Departement – Salah satu bentuk pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit di lakukan dengan proses sterilisasi terhadap bahan dan juga alat medik yang di gunakan untuk pelayanan pada pasien. Sterilisasi adalah proses pengelolaan alat atau bahan yang bertujuan untuk menghancurkan semua bentuk kehidupan mikroba, termasuk endospora dan juga dapat di lakukan dengan proses kimia atau fisika. Dalam hal ini kegiatan proses sterilisasi di lakukan oleh instalasi Sterilisasi atau Unit yang terkait dengan pelayanan tersebut. Sebagai tenaga kesehatan, di harapkan dapat berperan dalam pengendalian infeksi di Rumah Sakit.

Secara umum Pelatihan CSSD bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta dalam bidang pelayanan sterilisasi alat atau bahan. Sedangkan tujuan khususnya adalah setelah mengikuti program Pelatihan CSSD ini di harapkan peserta mampu: Memahami Manajemen Pelayanan CSSD Di Rumah Sakit Tempatnya Bekerja.

Standar Pelayanan CSSD

Persyaratan

– Petugas CSSD sehat jasmani dan rohani, Kondisi ruangan yang nyaman, bersih, tertata rapi yang mengutamakan safety patient dan petugas. Selain itu staff yang bekerja di instalasi CSSD harus sehat secara fisik dan mental, tidak buta warna serta tidak membawa sifat/carier terhadap penyakit infeksi tertentu sehingga tidak menjadi sumber/pemapar infeksi.

Sistem, Mekanismes dan Prosedur

1. Serah terima Linen/Instrumen/Alat/BHP
2. Proses pencucian dan setting
3. Pengemasan dan labeling Linen/Instrumen/Alat/BHP
4. Melakukan proses sterilisasi alat dan bahan
5. Penyimpanan dan pendistribusian alat dan bahan steril siap pakai yang di butuhkan oleh ruang/unit khusus
6. Melakukan pengawasan terhadap kualitas sterilisasi dalam rangka pencegahan dan pengendalian infeksi bersama dengan Komite PPI

Apa Itu Manajemen Nyeri, Manajemen Nyeri, Manajemen Nyeri Adalah, Manajemen Nyeri Anak, pelatihan manajemen nyeri

Pelatihan Manajemen Nyeri – Manajemen Nyeri – Manajemen Nyeri Adalah – Manajemen Nyeri Anak – Apa Itu Manajemen Nyeri

 

“MANAJEMEN NYERI (PAIN MANAGEMEN)”

Manajemen nyeri adalah mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan. Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP) tahun 1979, nyeri mendefinisikan sebagai suatu sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang di dapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Berdasarkan batasan tersebut di atas, terdapat dua asumsi perihal nyeri, yaitu persepsi nyeri merupakan sensasi yang tidak menyenangkan, berkaitan dengan pengalaman emosional menyusul adanya kerusakan jaringan yang nyata (pain with nociception). Keadaan nyeri seperti ini di sebut sebagai nyeri akut. Kedua, bahwa perasaan yang sama dapat juga terjadi tanpa di sertai dengan kerusakan jaringan yang nyata (pain without nociception). Keadaan nyeri seperti ini di sebut sebagai nyeri kronis.

Beberapa rumah sakit yang telah melakukan upaya intensif untuk mengelola rasa nyeri tersebut, sehingga rasa nyeri yang menyertai tindakan medis, tindakan keperawatan, ataupun prosedur diagnostik pada pasien dapat diminimalkan atau dilakukan tindak lanjut yang teratur, sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh rumah sakit dan kebutuhan pasien. Nyeri yang dirasakan pasien dikelola dengan melakukan pemantauan secara kontinyu dan terencana. Bahkan dalam akreditasi Joint Commission International (JCI) isu manajemen nyeri (pain managemen) ini menjadi salah satu elemen penilaian yang di persyaratkan untuk dipenuhi oleh pihak rumah sakit.

Prosedur manajemen nyeri

Prosedur sebelum terlaksana manajemen nyeri adalah:

  • Evaluasi
  • Tes diagnostik untuk menentukan penyebab utama nyeri
  • Rujukan untuk operasi (bergantung pada hasil tes dan evaluasi)
  • Intervensi seperti pemberian suntik atau stimulasi saraf tulang belakang
  • Terapi fisik untuk meningkatkan kekuatan tubuh
  • Jika perlu, ada psikiater untuk mengatasi masalah kecemasan, depresi, atau keluhan mental lain yang di alami saat menderita nyeri kronis
  • Pengobatan komplementer

Ada beberapa kategori yang bisa diringankan dengan manajemen nyeri seperti:

  • Nyeri akut
    Merupakan nyeri yang terjadi tiba-tiba dan hanya berlangsung sebentar dan sesekali. Biasanya, nyeri akut terjadi karena patah tulang, kecelakaan, terjatuh, luka bakar, persalinan, dan operasi.
  • Nyeri kronis
    Jenis nyeri yang terjadi selama lebih dari 6 bulan dan merasakan hampir setiap hari. Biasanya, nyeri kronis berawal dengan nyeri akut namun tidak hilang meskipun cedera atau penyakit telah sembuh. Biasanya, nyeri kronis terjadi karena nyeri tulang belakang, kanker, diabetes, sakit kepala, atau masalah pada sirkulasi darah.
  • Nyeri yang terjadi tiba-tiba (breakthrough pain)
    Breakthrough pain yaitu jenis nyeri dengan rasa tertusuk yang terjadi dengan cepat. Nyeri ini terjadi pada seseorang yang sudah mengonsumsi obat untuk mengatasi nyeri kronis akibat kanker atau arthritis. Breakthrough pain bisa terjadi saat seseorang melakukan aktivitas sosial, batuk, atau stres. Lokasi terjadinya nyeri kerap terjadi di titik yang sama.
  • Nyeri tulang
    Ciri-cirinya adalah rasa nyeri dan ngilu di satu tulang atau lebih dan muncul saat berolahraga atau beristirahat. Pemicunya bisa karena kanker, patah tulang, hingga osteoporosis.
  • Nyeri saraf
    Merupakan jenis nyeri yang terjadi karena ada peradangan saraf. Sensasinya seperti tertusuk dan terbakar. Bahkan beberapa penderitanya yang menjelaskan sensasinya seperti tersetrum dan jadi kian parah di malam hari.
  • Nyeri seperti tertusuk, kram, atau terbakar (phantom pain)
    Phantom pain terasa seperti datang dari bagian tubuh yang tidak lagi ada di tempatnya. Biasanya, orang yang menjalani amputasi kerap merasakannya. Phantom pain bisa mereda seiring dengan berjalannya waktu.
  • Nyeri jaringan lunak
    Nyeri ini terjadi karena ada peradangan jaringan, otot, atau ligamen. Biasanya berhubungan dengan cedera saat olahraga, nyeri tulang belakang, hingga masalah saraf sciatica.
  • Nyeri alih pada bagian tubuh tertentu
    Nyeri alih terasa seperti datang dari titik tertentu namun sebenarnya merupakan dampak dari cedera atau peradangan di organ lain atau lokasi lain. Misalnya masalah di pankreas akan menyebabkan rasa nyeri di perut bagian atas hingga punggung.

 

 

Manajemen Laktasi, Manajemen Laktasi Adalah, Manajemen Laktasi Kemenkes, pelatihan manajemen laktasi, Pelatihan Manajemen Laktasi 2024

Pelatihan Manajemen Laktasi – Pelatihan Manajemen Laktasi 2024 – Manajemen Laktasi – Manajemen Laktasi Adalah – Manajemen Laktasi Kemenkes

“MANAJEMEN LAKTASI”

Manajemen laktasi merupakan upaya yang melakukannya untuk mencapai keberhasilan dalam menyusui. Dalam hal ini manajemen laktasi sebaiknya sudah dilakukan sejak awal kehamilan hingga selama masa menyusui. ASI merupakan cairan yang mudah tercerna oleh bayi, mengandung antibodi dan memberikan semua nutrisi yang sangat perlu untuk bayi. Kolostrum yang terproduksi saat bayi baru lahir mengandung kadar antibodi yang tinggi untuk melindungi bayi. Kandungan nutrisi dalam ASI yaitu lemak, protein, gula dan air berubah dalam jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan bayi seiring pertumbuhan usianya. Tidak ada komposisi susu dari makhluk lain yang sesuai untuk bayi manusia.

Bagi bayi, pemberian ASI dapat menurunkan risiko infeksi akut seperti diare, pnemonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran kemih. Menyusui juga melindungi bayi dari penyakit kronis masa depan seperti diabetes tipe 1. Dalam hal ini menyusui selama masa bayi berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan kolesterol serum total, berhubungan dengan prevalensi diabetes tipe 2 yang lebih rendah, alergi, serta kelebihan berat badan dan obesitas pada masa remaja dan dewasa.

Menyusui juga bermanfaat bagi ibu. Dalam hal ini menyusui secara eksklusif dapat menunda kembalinya kesuburan seorang pertama, terutama pada 6 bulan pertama setelah melahirkan sehingga dapat berperan sebagai kontrasepsi alami. Menyusui juga mengurangi risiko kanker payudara dan kanker ovarium. Selain itu menyusui membantu menurunkan berat badan dan risiko obesitas pada Ibu. Menyusui membantu ibu dan bayi mengembangkan hubungan yang erat (bonding) dan penuh kasih sayang. Dari segi ekonomi, menyusui memiliki cost-benefit yang lebih rendah daripada konsumsi susu formula karena biaya kesehatan yang lebih rendah serta tidak menghasilkan bahan limbah.

Sering kita jumpai masalah utama dalam pemberian ASI adalah produksi ASI yang rendah, hal tersebut adalah akibat dari :

Kurang sering menyusui atau memerah payudara
Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI sewcara efektif, antara lain akibat : struktur mulut dan rahang yang kurang baik, teknik perlekatan yang salah
Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)
Jaringan payudara hipoplastik
Kelainan metabolisme atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI
Kurangnya gizi ibu

Keberhasilan menyusui

Untuk memaksimalkan manfaat menyusui, bayi sebaiknya meminum asi selama 6 bulan pertama. Beberapa langkah yang dapat menuntun ibu agar sukses menyusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama, antara lain :

Biarkan bayi menyusu sesegera mungkin setelah bayi lahir terutama dalam 1 jam pertama (inisiasi dini), karena bayi baru lahir sangat aktif dan tanggap dalam 1 jam pertama dan setelah itu akan mengantuk dan tertidur. Bayi mempunyai refleks menghisap (sucking reflex) sangat kuat pada saat itu. Jika ibu melahirkan dengan operasi kaisar juga dapat melakukan hal ini (bila kondisi ibu sadar, atau bila ibu telah bebas dari efek anestesi umum). Proses menyusui mulai segera setelah lahir dengan membiarkan bayi terletak di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit kulit. Bayi akan mulai merangkak untuk mencari puting ibu dan menghisapnya. Kontak kulit dengan kulit ini akan merangsang aliran ASI, membantu ikatan batin (bonding) ibu dan bayi serta perkembangan bayi.
Yakinkan bahwa hanya ASI makanan pertama dan satu-satunya bagi bayi anda. Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu formula) yang di berikan, karena akan menghambat keberhasilan proses menyusui. Makanan atau cairan lain akan mengganggu produksi dan suplai ASI, menciptakan bingung puting, serta meningkatkan risiko infeksi
Susui bayi sesuai kebutuhannya sampai puas. Bila bayi puas, maka ia akan melepaskan puting dengan sendirinya.

 

Pelatihan Resusitasi Neonatus, Pengertian Resusitasi Neonatus, Resusitasi Neonatus, Resusitasi Neonatus Adalah, Resusitasi Neonatus Terbaru

Pelatihan Resusitasi Neonatus – Resusitasi Neonatus – Resusitasi Neonatus Adalah – Resusitasi Neonatus Terbaru – Pengertian Resusitasi Neonatus

 

“Resusitasi Neonatus”

 

Sekitar 90% bayi baru lahir mengalami transisi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin tanpa masalah. Dalam hal ini dapat memperkirakan sekitar 5-10% kelahiran memerlukan intervensi saat lahir berupa stimulasi taktil atau pembersihan jalan nafas, bantuan ventilasi. Dan sekitar 1% membutuhkan resusitasi lanjut berupa intubasi, kompresi dada, dan obat-obatan.

Tindakan resusitasi dimaknai sebagai bantuan memberikan usaha napas dan sirkulasi yang adekuat. Rekomendasi resusitasi di daerah dengan sumber daya terbatas dikenal sebagai gerakan ‘Helping Babies Breathe’(HBB). Dan berdasarkan penelitian retrospektif terbukti meningkatkan luaran perinatal. Penundaan bantuan napas meningkatkan morbiditas dan mortalitas neonatus sebesar 16% setiap 30 detik dan terjadinya efek sekunder yaitu bradikardia.

Pelatihan resusitasi neonatus (PRN) terancang untuk menolong sebagian kecil bayi baru lahir, walaupun presentasi bayi yang membutuhkan bantuan ini kecil, akan tetapi jumlah bayi yang sebenarnya membutuhkan adalah cukup banyak. Karena banyaknya persalianan, bayi yang tidak mendapat pertolongan yang baik mungkin akan mendapat masalah di kemudian hari bahkan sampai kematian. Maka di butuhkan sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dan handal dalam melakukan tindakan resusitasi.

Tujuan khusus Resusitasi Neonatus

  • Menjelaskan dan mengidentifikasi tindakan pertama pada kondisi yang memerlukan resusitasi
  • Mampu membuat penilaian primer dan penilaian sekunder pada tindakan resusitasi
  • Mampu melakukan tindakan pertama dan merumuskan cara penanggulangan kondisi buruk untuk penyelamatan
  • Mampu memberikan terapi farmakologi terkait resusitasi
  • Mampu mengidentifikasi penyebab mayor dan minor dari kondisi perburukan
  • Mampu menstabilkan penderita dengan resusitasi

Pelayanan resusitasi neonatus berarti sebagai bagian intervensi klinis pada pasien atau korban yg mengalami kejadian mengancam hidupnya, seperti henti jantung atau paru. Pada saat henti jantung atau paru, pemberian kompresi pada dada atau bantuan pernapasan. Oleh karena itu akan berdampak pada hidup atau matinya pasien, setidaknya menghindari kerusakan jaringan otak.

Maksud dan tujuan pelayanan Resusitasi Neonatus sangat penting untuk dapat memberikan pelayanan intervensi yang kritikal yaitu tersedianya dengan cepat peralatan medis terstandar, obat resusitasi, staf terlatih dgn baik untuk resusitasi. Bantuan hidup dasar harus melakukannya dengan secepatnya saat menegtahui ada tanda henti jantung-paru, dan proses pemberian bantuan hidup kurang dari 5 (lima) menit. Hal ini termasuk review terhadap pelaksanaan sebenarnya resusitasi atau terhadap simulasi pelatihan resusitasi di RS.

 

pelatihan vaksin, Pelatihan Vaksin Internasional, Pelayanan Vaksin, Pelayanan Vaksin Terdekat, Vaksin 2024

Pelatihan Vaksin -Pelatihan Vaksin Internasional – Pelayanan Vaksin – Pelayanan Vaksin Terdekat – Vaksin 2024

 

“VAKSIN”

Pelatihan Vaksinisasi Sepanjang sejarah umat manusia imunisasi merupakan salah satu pencapaian yang gemilang dalam perbaikan kesehatan masyarakat. Vaksin yang telah terpakai dalam program imunisasi rutin di tiap negara. Dijamin aman dan efektif apabila diberikan dengan cara yang benar sesuai dengan SOP. Walaupun demikian pemberian vaksin ke dalam tubuh manusia tidaklah seratus persen bebas dari resiko dan juga efek simpan. Kadang-kadang masih bisa terjadi setelah pemberian imunisasi. Agar program imunisasi dapat mencapai hasil yang baik maka adanya kepercayaan masyarakat. Bahwa yang telah diberikan aman merupakan kunci keberhasilan yang harus diupayakan terus menerus.

Pelatihan ini telah menyiapkan sebagai bahan pengenalan keamanan vaksin dari seluruh materi pelatihan. Dari pelatihan ini kita akan belajar dan mengenal tentang pentingnya program imunisasi dari bagaimana vaksin bekerja untuk menjaga kesehatan masyarakat. Sehingga kita akan memahami hubungan antara cakupan imunisasi. Efek simpang dan juga penyebaran penyakit yang dapat cegah dengan imunisasi (PD3I). Kita juga akan mengerti pentingnya peraturan perundangan yang mengatur sehingga keamanan dan efektivitas dapat tercapai.

TUJUAN PELATIHAN VAKSIN WHO

Pelatihan ini bertujuan untuk membangun kesamaan persepsi dan juga pengertian antara para profesional yang bekerja berkaitan keamanan. Profesional yang bermaksud adalah perawat/bidan dan tenaga kesehatan masyarakat termasuk juga tenaga farmasi, dokter dan juga tenaga pengelola program/teknis imunisasi.

Vaksin merupakan unsur biologis yang memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan rantai secara khusus sejak terproduksi di pabrik hingga terpakai di unit pelayanan. Penyimpangan dari ketentuan yang ada dapat mengakibatkan kerusakan sehingga menurunkan atau bahkan menghilangkan potensi atau dapat memberikan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) bila memberikan kepada sasaran. Selain itu kerusakan vaksin juga akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, baik dalam bentuk biaya maupun biaya-biaya yang terpaksa di keluarkan guna menanggulangi masalah KIPI atau kejadian luar biasa (KLB). Pelatihan Pengelolaan dan juga logistik imunisasi/vaccine management bagi pengelola program imunisasi sangat perlu untuk memastikan pengelolaan dan juga logistik sesuai standar.

 

 

   

farmasi klinik, farmasi klinik adalah, farmasi klinik rumah sakit, pelatihan farmasi klinik, Pelatihan Farmasi Klinik 2024

Farmasi Klinik – Farmasi Klinik Adalah – Farmasi Klinik Rumah Sakit – Pelatihan Farmasi Klinik – Pelatihan Farmasi Klinik 2024

 

“FARMASI KLINIK”

 

Farmasi Klinik merupakan disiplin ilmu yang bertujuan memudahkan pasien dalam upaya pengoptimalan terapi obat, mempromosikan kesehatan dan dapat memimimalkan biaya obat. Dalam kegiatannya farmasi klinik memberikan saran profesional pada saat peresepan maupu setelah peresepan dan merekomendasikan pengobatan yang baik kepada pasien maupun tenaga kesehatan lain.

Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit bahwa Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan. Persyaratan kefarmasian harus menjamin ketersediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu, bermanfaat, aman, dan terjangkau.

Selanjutnya dinyatakan bahwa pelayanan Sediaan Farmasi Rumah Sakit harus mengikuti Standar Pelayanan Kefarmasian. Yang selanjutnya teramanahkan untuk diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan. Dalam Pasal 108 ayat 1 UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan berbunyi “Praktek Kefarmasian yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, penagdaan, penyimpanan, dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan. Dalam menjalankan praktek kefarmasian apoteker harus melakukan sesuai standar yang telah menetapkan oleh peraturan Menteri.

Keberadaan apoteker memiliki peran yang penting dalam mencegah munculnya masalah terkait obat. Apoteker sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam PTO. Pengetahuan penunjang dalam melakukan PTO adalah patofisiologi penyakit; farmakoterapi; serta interpretasi hasil pemeriksaan fisik, laboratorium dan diagnostik. Selain itu, memerlukan keterampilan berkomunikasi, kemampuan membina hubungan interpersonal, dan menganalisis masalah. Proses PTO merupakan proses yang komprehensif mulai dari seleksi pasien, pengumpulan data pasien, identifikasi masalah terkait obat, rekomendasi terapi, rencana pemantauan sampai dengan tindak lanjut. Proses tersebut harus dapat melakukan secara berkesinambungan sampai tujuan terapi tercapai. Dalam pelaksanaan pemantauan terapi obat, apoteker harus mengutamakan pada pasien populasi khusus.

Adapun pasien prioritas untuk dilakukan pemantauan terapi obat (PTO) adalah

  • Pasien yang masuk rumah sakit dengan multi penyakit sehingga menerima polifarmasi
  • Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika
  • Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal
  • Pasien geriatri dan pediatri
  • Pasien hamil dan menyusui
  • Pasien dengan perawatan intensif
  • Pasien Psikiatri

 

Pelayanan Farmasi Klinik merupakan pelayanan langsung kepada apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcame dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping. Karena pengelolaan obat, terutama obat – obat yang perlu waspada (high alert medications) sangat penting untuk diawasi oleh apoteker agar meminimalisir insiden.

Untuk info lebih lanjut terkait Pelatihan Farmasi Klinik Klik Disini

 

 

Pelatihan CTU, Pelatihan CTU 2024, Pelatihan CTU Adalah, Pelatihan CTU Bidan, Pelatihan CTU Bidan Adalah

Pelatihan CTU – Pelatihan CTU Adalah – Pelatihan CTU 2024 – Pelatihan CTU Bidan – Pelatihan CTU Bidan Adalah

 

“CONTRACEPTIVE TECHNOLOGY UPDATES (CTU)”

Pelatihan CTU (Contraception Technology Update) bagi Tenaga Kesehatan adalah untuk mempersiapkan peserta agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan perilaku sebagaimana yang menjadi tujuan pelatihan berbasis kompetensi ini sehingga mampu berkontribusi penuh pada pelayanan KB di masyarakat.

Setiap tahun terjadi 5 juta kelahiran di Indonesia, namun hanya kurang dari 30 persen ibu melahirkan yang langsung ber-KB. Padahal, pemasangan KB pasca persalinan (Postpartum) bermanfaat untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), menaikkan angka pemakai kontrasepsi jangka panjang dan dapat menekan angka drop out ber-KB. Untuk kesejahteraan bayi, ibu dan keluarganya, WHO menyarankan untuk menunda paling tidak selama dua tahun sebelum hamil lagi. Keluarga Berencana PascaPersalinan dapat membantu menurunkan kematian Ibu, Bayi dan Balita. Salah satu upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah dengan KB melalui berbagai metode namun guna percepatan penurunan AKI dan AKB salah satu metode yang paling baik yang dapat digunakan dengan KB MKJP (Metode KB jangka panjang) meliputi IUD.

Pelatihan CTU  diperlukan sebagai upaya mMeningkatkan kompetensi tenaga medis (dokter dan bidan) mengenai pemasangan IUD pasca melahirkan dengan metode inserter dan meningkatkan kualitas pelayanam dan kemampuan para tenaga kesehatan meningkat sehingga mengurangi resiko atau tingkat kegagalan dalam penggunaan alat kontrasepsi
Mampu memiliki action plan untuk mensosialisaikan metode baru ini kepada para provider di tempatnya masing-masing

Semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki keluarga yang terencana mengakibatkan penggunaan alat kontrasepsi semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perlunya tenaga medis untuk dapat melayani berbagai jenis metode kontrasepsi. Yang paling cocok dengan kondisi masing-masing peserta KB. Metode kontrasepsi seperti IUD (intrauterine device) dan KB Implan memerlukan kompetensi khusus dalam pemasangan maupun pencabutannya. Sehingga selain memerlukan pengetahuan (kognitif) dan juga kemampuan (skill) yang khusus.

Oleh sebab itu penting untuk pelatihan bagi para tenaga medis yang bersifat langsung pada pasien (hands-on). Sehingga peserta pelatihan mampu melakukannya secara mandiri setelah mengikuti pelatihan CTU ini.

 

TUJUAN

  • Memahami tentang kontrasepsi
  •  Memahami tentang pencegahan infeksi
  • Memahami tentang AKDR, Implant, dan masalah umum

 

IPCN Rumah Sakit, Pelatihan IPCN, Pelatihan IPCN 2024, Pelatihan IPCN Adalah, Pelatihan IPCN Dasar

Pelatihan IPCN – Pelatihan IPCN Adalah – Pelatihan IPCN Dasar – Pelatihan IPCN 2025 – IPCN Rumah Sakit

 

 

“PERAWAT PENCEGAH DAN PENGENDALIAN INFEKSI (IPCN)”

 

WHO South East Asie Region (SEARO 2015) telah mengeluarkan strategi regional tahun 2016-2025 terkait keselamatan pasien. Yang meliputi 5 objektif strategi yaitu salah satunya adalah pencegahan dan juga pengendalian infeksi akibat layanan kesehatan. Sejalan dengan hal ini, kebijakan mengenai keselamatan pasien Indonesia terarahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2011. Didukung dengan penguatannya sebagai bagian dari akreditasi rumah sakit, dengan salah satu dari sasaran yang dituju adalah pengurangan risiko infeksi.

Rumah Sakit sebagai fasilitas Pelayanan Kesehatan mendapatkan tuntutan memberikan pelayanan yang aman dan juga bermutu sesuai UU No. 36 tahun 2009 dan UU No. 44. Upaya yang dilakukan antara lain dengan Penerapan Patient safety yaitu menurunkan resiko HAIs.

Resiko Infeksi yang terjadi dalam fasilitas kesehatan, saat ini sebagai Health Care Associated Infections (HAIs) merupakan masalah penting di seluruh dunia. Masyarakat/pasien/pengunjung RS sebagai penerima pelayanan kesehatan serta tenaga kesehatan sebagai pemberi pelayanan hadapkan pada resiko terjadinya infeksi nosokomial atau infeksi yang dapat dari RS. Pencegahan dan juga Pengendalian Infeksi bertujuan untuk mengidentifikasi dan juga meminimalkan resiko penularan/transmisi infeksi antara pasien, tenaga professional kesehatan, baik dari luar maupun yang dapat di RS. Hal ini berkaitan erat dengan mutu pelayanan di RS yang akan mempengaruhi citra RS.

IPCN atau Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi merupakan tenaga professional dan praktisi. Dalam pelaksanaan PPI di RS dan juga fasilitas kesehatan lainnya. Berdasarkan SK Menkes tahun 2007 bahwa setiap RS harus melaksanakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan memiliki IPCN dengan perbandingan 1 IPCN terhadap 100-150 tempat.

Pemahaman peran dan fungsi IPCN /perawat dalam hal pengendalian dan juga pencegahan infeksi sangat perlu. Dalam hal ini agar dapat melaksanakan program pencegahan dan juga pengendalian infeksi di RS. Yang berkaitan erat dengan mutu pelayanan di RS dan mempengaruhi citra RS.

TUJUAN IPCN

Untuk menciptakan IPCN yang mampu laksana sesuai dengan peran dan fungsinya. Dan juga sesuai dengan persyaratan Akreditasi dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.

 

       

 

Case Manager, Case Manager Adalah, pelatihan case manager, Pelatihan Case Manager 2024, Training Case Manager

Case Manager – Case Manager Adalah – Pelatihan Case Manager – Pelatihan Case Manager 2024 – Training Case Manager

 

 

“MANAJER PELAYANAN PASIEN (CASE MANAGER) DI RUMAH SAKIT”

 

Case Manager adalah seorang coordinator, fasilitator, pemberi advokasi, dan juga educator. Case Manager diangkat oleh direktur rumah sakit dan bertanggung jawab langsung kepada wakil direktur pelayanan medik. Manajer pelayanan pasien bukan professional pemberi asuhan (PPA). Manajer Pelayanan Pasien dalam pelaksanaan pelayanannya menggunakan pendekatan tim yaitu Profesi0onal pemberi asuhan (PPA), pasien, sistem pendukung pasien (keluarga, teman, dsb), pembayar (asuransi). Manager Pelayanan Pasien (Case Manager) menjalankan manajemen pelayanan pasien melalui proses kolaboratif untuk assesmen, perencanaan, fasilitasi, koordinasi pelayanan, evaluasi dan advokasi untuk opsi dan juga pelayanan bagi pemenuhan kebutuhan komprehensif pasien dan juga keluarganya melalui komunikasi dan juga sumber daya yang tersedia sehingga memberi hasil asuhan pasien yang bermutu dengan biaya yang efektif.

Pelayanana kesehatan termasuk rumah sakit pada era milenium. Ini harus dapat menjamin tercapainya kesehatan pasien, karena tanpa kesehatan. Yang hanya berorientasi pada penyakit dengan paradigma pelayanan baru yaitu pelayanan yang berfokus pada pasien ( patient centered care). Pelayanan rumah sakit yang menggunakan konsep PCC adalah pelayanan yang melaksanakan 4 konsep dasar yaitu martabak dan juga respek kepada pasien. Berbagi informasi dengan pasien. Partisipasi pasien dalam pelayanan dan kolaborasi/kerjasama. Untuk tercapainya pelaynan berfokus pasien.

Fungsi Case Manager /MPP

1. Asesmen utilitas : Mengakses semua informasi dan data untuk evaluasi manfaat/utilitas untuk kebutuhan pelayanan pasien
2. Perencanaan : Mencerminkan kelayakan/kepatutan dan efektivitas biaya pengobatan medis dan klinis serta kebutuhan pasien untuk mengambil keputusan
3. Fasilitasi : Interaksi antara MPP dan para anggota tim pemberi pelayanan kesehatan, perwakilan pembayaran, serta pasien/keluarga
4. Advokasi : Mewakili kepentingan pasien dan menjangkau pemangku kepentingan orang lain

 

Rumah sakit perlu menetapkan staf medis, keperawatan dan juga staf lain yang bertanggung jawab atas pelayanan pasien Staf adalah manajer pelayanan pasien (case manager) yang dapat seorang dokter atau tenaga keperawatan yang berkompeten bekerja sama dalam menganalisis dan juga mengintegrasikan asesmen pasien.

Manajer pelayanan pasien (case manager) adalah profesional dlam rumah sakit yang bekerja secara kolaboratif dengan PPA. Mempastikan bahwa pasien dirawat serta ditransisikan ketingkat asuhan yang tepat, dalam perencanaan asuhan yang efektif dan menerima pengobatan. Srtadidukung pelayanan dan perencanaan yang membutuhkan selama maupun sesudah perawatan rumah sakit.