Dalam hal ini, Stunting Indonesia mempunyai masalah gizi yang besar ditandai dengan masih besarnya prevalensi gizi kurang pada anak balita, Kurang Vitamin A (KVA), Anemia kurang zat besi dan juga Kurang Yodium. Khusus kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan pertumbuhan dan juga identifikasi faktor risiko yang erat. Dengan kejadian KLB Gizi buruk seperti campak dan juga diare. Dalam hal ini, Menteri Kesehatan melalui suratnya Nomor: 1209 tanggal 19 Oktober 1998 telah menginstruksikan agar memperlakukan kasus kurang gizi berat sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sehingga setiap kasus baru harus dilaporkan dalam 1x 24 jam.
Gizi buruk juga sangat berhubungan dengan penyakit infeksi, hal ini dapat digambarkan seperti telur dan juga ayam. Mana yang lebih dulu terjadi tidaklah perlu dipersoalkan, yang terpenting adalah segera menanggulangi keadaan tersebut. Cara termudah untuk mendeteksi status gizi di masyarakat dapat dilakukan melalui penimbangan berat badan dan juga pengukuran tinggi badan di Posyandu. Untuk itu status gizi balita dapat dipantau dengan KMS yang saat ini sudah diperbaharui dengan membedakan antara KMS untuk anak perempuan dan juga anak laki-laki. Tidak hanya status gizi yang dapat dilihat pada grafik/alur di KMS tetapi pertambahan berat badan setiap bulan yang harus dipenuhi bisa menjadi patokan bagi orang tua, keluarga dan juga kader serta petugas kesehatan.
Sehubungan dengan hal semua di atas, maka kami dari PUSAT DIKLAT bersama para Pakar dan juga Narasumber yang berkompeten akan mengadakan PELATIHAN KHUSUS : “STUNTING”. Yang akan diselenggarakan pada :
TUJUAN PELATIHAN STUNTING
1. Mengetahui tentang tanda-tanda gizi guruk dan juga cara merujuk sebagai upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat
2. Mengetahui pendekatkan pelayanan dengan cara menyiapkan pos baru/ Therapeutic Feeding Centre
3. Para peserta mampu melakukan pelayanan gizi dan juga pengobatan sesuai SOP
4. Para peserta mengetahui upaya pencegahan meningkatnya jumlah kasus gizi buruk dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan imunisasi, makanan tambahan, perbaikan kondisi lingkungan
METODE BIMTEK
Ceramah
Diskusi
Simulasi
Penyusunan Program
BIAYA & FASILITAS
Paket A Rp 5.500.000,- /peserta Menginap di Grand Puri Saron Hotel MalioboroYogyakarta (1 kamar/peserta) selama 3 hari 2 malam, konsumsi (makan pagi, makan siang, makan malam), Coffee break 2 kali sehari, sertifikat, Training kit, foto bersama dan sebuah tas eksklusif.
Paket B Rp 4.500.000,-/peserta Tanpa Menginap di Hotel, Coffee break 2 kali sehari dengan makan siang di hotel selama 2 hari. Training kit, sertifikat, foto bersama dan sebuah tas eksklusif.
TEMPAT PENYELENGGARAAN: Grand Puri Saron Hotel (MALIOBORO)Jl. Sosrowijayan No. 242 Yogyakarta Telp/Fax : (0274) 4436844 WA : 082324284296/081228859896 E-mail : Pusatdiklat_konsultan@yahoo.co.id Biaya Pelatihan ditransfer melalui Bank Mandiri Cabang Yogyakarta a/n. CV Pusat Diklat, No. Rek. : 137-00-1698692-5 atau dapat dibayar langsung pada saat registrasi.
Catatan :
Batas konfirmasi pendaftaran 3 hari sebelum hari pelaksanaan
Kepada Yth. Direktur/Manajer Rumah Sakit, Kepala dan Team Dokter Fungsional, Perawat Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan, Koordinator Ahli Gizi, dan Profesi Kesehatan Lainnya
Indonesia mempunyai masalah gizi yang besar di tandai dengan masih besarnya prevalensi gizi kurang pada anak balita, Kurang Vitamin A (KVA), Anemia kurang zat besi dan juga Kurang Yodium. Khusus kejadian gizi buruk perlu di deteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan pertumbuhan dan juga identifikasi faktor risiko yang erat dengan kejadian KLB Gizi buruk seperti campak dan juga diare Menteri Kesehatan melalui suratnya Nomor: 1209 tanggal 19 Oktober 1998 telah menginstruksikan agar memperlakukan kasus kurang gizi berat sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sehingga setiap kasus baru harus di laporkan dalam 1x 24 jam. Gizi buruk juga sangat berhubungan dengan penyakit infeksi, hal ini dapat di gambarkan seperti telur dan juga ayam.
Mana yang lebih dulu terjadi tidaklah perlu di persoalkan, yang terpenting adalah segera menanggulangi keadaan tersebut. Cara termudah untuk mendeteksi status gizi di masyarakat dapat di lakukan melalui penimbangan berat badan dan juga pengukuran tinggi badan di Posyandu. Untuk itu status gizi balita dapat di pantau dengan KMS yang saat ini sudah di perbaharui dengan membedakan antara KMS untuk anak perempuan dan juga anak laki-laki. Tidak hanya status gizi yang dapat di lihat pada grafik/alur di KMS tetapi pertambahan berat badan setiap bulan yang harus di penuhi bisa menjadi patokan bagi orang tua, keluarga dan juga kader serta petugas kesehatan.
Sehubungan dengan hal semua diatas, maka kami dari PUSAT DIKLAT bersama para Pakar dan Narasumber yang berkompeten akan mengadakan PELATIHAN KHUSUS : “GIZI BURUK BALITA“
TUJUAN
1. Mengetahui tentang tanda-tanda gizi guruk dan cara merujuk sebagai upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat
2. Mengetahui pendekatkan pelayanan dengan cara menyiapkan pos baru/ Therapeutic Feeding Centre
3. Para peserta mampu melakukan pelayanan gizi dan pengobatan sesuai SOP
4. Para peserta mengetahui upaya pencegahan meningkatnya jumlah kasus gizi buruk dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan imunisasi, makanan tambahan, perbaikan kondisi lingkungan
MATERI
1. Analisa dan penilaian kandungan nutrisi makanan pada balita
2. Kajian dasar tanda-tanda gizi buruk dan dan teknik pencegahannya pada penyedian porsi dan menu makanan
3. Tinjauan umum dan pemahaman dasar nutrisi serta gizi seimbang untuk balita
4. Teknik pengolahan dan penyimpanan makanan sesuai dengan gizi balita
METODE
Ceramah
Diskusi
Simulasi
Penyusunan Program
BIAYA & FASILITAS
Paket A Rp 5.500.000,- /peserta
Menginap di Grand Puri Saron Hotel MalioboroYogyakarta (1 kamar/peserta) selama 3 hari 2 malam, konsumsi (makan pagi, makan siang, makan malam), Coffee break 2 kali sehari, sertifikat, Training kit, foto bersama dan juga sebuah tas eksklusif.
Paket B Rp 4.500.000,-/peserta Tanpa Menginap di Hotel, Coffee break 2 kali sehari dengan makan siang di hotel selama 2 hari. Training kit, sertifikat, foto bersama dan juga sebuah tas eksklusif.
TEMPAT PENYELENGGARAAN: Grand Puri Saron Hotel (MALIOBORO) Jl. Sosrowijayan No. 242 Yogyakarta
Telp/Fax : (0274) 4436844
WA : 082324284296/081228859896
E-mail : Pusatdiklat_konsultan@yahoo.co.id
Biaya Pelatihan ditransfer melalui Bank Mandiri Cabang Yogyakarta a/n. CV Pusat Diklat, No. Rek. : 137-00-1698692-5 atau dapat dibayar langsung pada saat registrasi.
Catatan :
Batas konfirmasi pendaftaran 3 hari sebelum hari pelaksanaan
Gizi buruk berbeda dengan stunting di tandai dengan badan anak yang terlalu kurus di bandingkan tinggi badannya. Sedangkan stunting di tandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Jika sebelumnya pengertian secara umum dapat di artikan sebagai kondisi serius. Dimana asupan makan seseorang tidak sesuai dengan nutrisi yang semestinya diperlukan. Maka, gizi kurang sendiri dapat di artikan lebih spesifik sebagai kondisi dimana nutrisi tidak dipenuhi dengan baik.
Penyebab Gizi Buruk
Penyebab utamanya adalah kekurangan asupan makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia anak. Kekurangan asupan ini bisa terjadi karena tidak tersedianya bahan makanan yang berkualitas baik. Selain itu, juga sering disebabkan oleh gangguan penyerapan nutrisi akibat penyakit kronis, misalnya diare kronis atau TBC.
Faktor Risiko Gizi Buruk
Risiko terjadinya pada anak bisa meningkat jika ibu hamil memiliki beberapa kondisi atau faktor berikut :
Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan narkoba
Terinfeksi HIV, sifilis, dan hepatitis B
Tingkat pendidikan rendah
Kemiskinan
Sedangkan pada anak, beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk adalah :
Terlahir prematur atau berat badan lahir rendah.
Mengalami infeksi kronis atau infeksi berulang.
Berkebutuhan khusus, misalnya cerebral palsy.
Terlahir dengan kelainan bawaan, seperti bibir sumbing, kelainan pada sistem pencernaan, malabsorbsi makanan, atau penyakit jantung bawaan.
Mendapatkan pola asuh yang tidak menunjang tumbuh kembangnya.
Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, tidak mendapat akses untuk air bersih, dan berpolusi.
Gejala Gizi Buruk
Gejala yang menunjukkan anak mengalami gizi buruk adalah :
Tubuh anak tampak sangat kurus
Wajah keriput
Kulit kering
Perut tampak buncit
Sering lemas dan tidak aktif bermain
Gangguan tumbuh kembang
Rambut mudah rontok dan tampak kusam
Pembengkakan (edema) di tungkai
Pemeriksaan Gizi Buruk
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, serta mengukur lingkar kepala dan lingkar lengan atas anak. Selanjutnya, seluruh hasil pengukuran tersebut akan dimasukkan ke dalam kurva pertumbuhan WHO.
Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang meliputi :
Tes darah, untuk mendeteksi kadar Hb (hemoglobin) dan gangguan elektrolit yang sering terjadi pada anak dengan gizi buruk.
Foto rontgen dada dan tes Mantoux, untuk mendeteksi penyakit tuberkulosis yang sering menimbulkan gizi buruk.
Penanganan Gizi Buruk
Anak dengan gizi buruk perlu menjalani rawat inap di rumah sakit agar dokter dapat menstabilkan kondisi dan tanda-tanda vital anak. Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter :
Menyelimuti anak untuk menjaga suhu tubuhnya.
Memberikan cairan infus untuk mengatasi dehidrasi.
Mengobati infeksi dengan pemberian antibiotik.
Memberikan suplemen, berupa vitamin A, zat besi, dan juga asam folat.
Memberikan vaksin
Selain upaya-upaya di atas, dokter juga dapat memberikan makanan cair khusus berupa F75, F100 atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF), melalui mulut atau selang makan secara perlahan dan juga bertahap. Makanan tersebut berisi susu, mentega, minyak, gula, dan juga kacang, yang di tambahkan dengan vitamin dan mineral.
Komplikasi Gizi Buruk
Gizi buruk yang tidak tertangani bisa menyebabkan komplikasi berupa :
Dehidrasi berat
Hipotermia
Anemia
Gangguan tumbuh kembang
Gangguan otak
Terserang penyakit infeksi berat
Kematian
Pencegahan Gizi Buruk
Memberikan makanan bergizi lengkap dan juga seimbang sesuai kebutuhan anak.
Menerapkan pola asuh yang baik.
Memberikan ASI eksklusif hingga usia anak 6 bulan, di lanjutkan dengan memberikan MPASI yang bergizi lengkap dan juga seimbang.
Mengukur tinggi dan juga berat badan anak secara berkala.
Membawa anak untuk segera berobat bila terkena penyakit infeksi.
Balita gizi buruk atau malnutrisi adalah kondisi ketika anak tidak menerima nutrien, mineral, dan kalori yang cukup untuk membantu perkembangan organ vital. Gizi buruk akan berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak.
Dalam hal ini, kelebihan asupan nutrisi juga menyebabkan balita gizi buruk. Karena itulah penting untuk menjalankan diet gizi seimbang untuk menjaga kadar nutrien yang cukup di dalam tubuh.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab Gizi Buruk:
Kurang makan: Kurangnya asupan makanan bisa memicu kekurangan nutrien yang penting hingga berujung pada gizi buruk.
Makan tidak teratur: Makan secara tidak teratur bisa memicu masalah pencernaan dan malnutrisi.
Gangguan pencernaan: Beberapa anak mungkin mengalami gangguan pencernaan, seperti penyakit Crohn’s, yang membatasi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrien meski mengonsumsi makanan sehat.
Kurang ASI: Air susu ibu bagi anak yang baru lahir sangat penting karena mengandung nutrien penting. Kurangnya ASI berisiko menyebabkan bayi gizi buruk.
Kurang aktivitas: Pencernaan tidak akan berjalan lancar jika anak kurang beraktivitas hingga memicu malnutrisi.
Fasilitas layanan dasar buruk: Sejumlah layanan dasar, misalnya sanitasi, yang buruk juga bisa memicu masalah gizi.
Tanda-tanda Balita Gizi Buruk
Menurut Kementerian Kesehatan, status diukur berdasarkan umur, berat badan, dan tinggi badan. Pengukuran ini bisa dilakukan di layanan Posyandu di tiap wilayah untuk mengetahui ada-tidaknya tanda. Penting untuk mengetahui tanda balita gizi buruk sedari dini. Tanda gizi buruk pada balita tergantung jenis nutrisi yang tidak seimbang dalam tubuhnya, antara lain:
Diagnosis yang tepat penting untuk mencegah konsekuensi yang lebih berat pada masa mendatang.
Pengobatan balita bisa di lakukan sendiri di rumah jika masih pada tahap awal. Bila sudah terlalu berat, masalah gizi itu mesti di tangani di rumah sakit. Pengobatan gizi buruk di rumah antara lain di lakukan dengan:
Konsumsi makanan bernutrisi dalam interval tertentu
Gizi buruk merupakan kondisi serius, di mana asupan makan seseorang tidak sesuai dengan nutrisi yang semestinya di perlukan. Tentunya, kondisi ini merupakan masalah serius yang perlu di tangani. Dimana setidaknya, gangguan kesehatan serius layaknya stunting, diabetes, penyakit jantung, dan juga gangguan mata. Bahkan, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, balita yang menderita gizi buruk di Indonesia setidaknya berjumlah 3,9%. Sedangkan, balita pengidap gizi kurang setidaknya berjumlah 13,8% di seluruh Indonesia. Gizi buruk adalah kondisi ketika berat badan anak terlalu rendah bila di bandingkan dengan tinggi badannya. Anak dengan severe wasting biasanya memiliki daya tahan tubuh yang sangat lemah sehingga berisiko terkena penyakit parah, bahkan meninggal. Tentunya permasalahan ini tidak dapat di abaikan begitu saja. Dari pengertian gizi buruk sendiri, sudah dapat di pastikan bahwa perlu di antisipasi sejak dini dan juga mendapatkan penanganan sebaik mungkin.
Penyebab Gizi Buruk
Penyebab utama gizi buruk adalah kekurangan asupan makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia anak. Kekurangan asupan ini bisa terjadi karena tidak tersedianya bahan makanan yang berkualitas baik.
Selain itu, sering di sebabkan oleh gangguan penyerapan nutrisi akibat penyakit kronis, misalnya diare kronis atau TBC.
Faktor Risiko Gizi Buruk
Risiko terjadinya gizi buruk pada anak bisa meningkat jika ibu hamil memiliki beberapa kondisi atau faktor berikut :
1. Hamil di usia remaja
2. Malnutrisi
3. Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan narkoba
4. Terinfeksi HIV, sifilis, dan hepatitis B
5. Tingkat pendidikan rendah
6. Kemiskinan
Sedangkan pada anak, beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk adalah :
1. Terlahir prematur atau berat badan lahir rendah.
2. Mengalami infeksi kronis atau infeksi berulang.
3. Berkebutuhan khusus, misalnya cerebral palsy.
4. Terlahir dengan kelainan bawaan, seperti bibir sumbing, kelainan pada sistem pencernaan, malabsorbsi makanan, atau penyakit jantung bawaan.
5. Mendapatkan pola asuh yang tidak menunjang tumbuh kembangnya.
6. Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, tidak mendapat akses untuk air bersih, dan berpolusi.
Penanganan
Anak dengan gizi buruk perlu menjalani rawat inap di rumah sakit agar dokter dapat menstabilkan kondisi dan juga tanda-tanda vital anak. Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter :
1. Menyelimuti anak untuk menjaga suhu tubuhnya.
2. Memberikan cairan infus untuk mengatasi dehidrasi.
3. Mengobati infeksi dengan pemberian antibiotik.
4. Memberikan suplemen, berupa vitamin A, zat besi, dan asam folat.
5. Memberikan vaksin
Selain upaya-upaya di atas, dokter juga dapat memberikan makanan cair khusus berupa F75, F100 atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF), melalui mulut atau selang makan secara perlahan dan juga bertahap. Makanan tersebut berisi susu, mentega, minyak, gula, dan juga kacang, yang ditambahkan dengan vitamin dan mineral.